22 June, 2006

Menanti meletusnya "Revolusi Sunyi"?

Menanti Meletusnya "Revolusi Sunyi"?

Oleh PEPIH NUGRAHA

Tulisan ini dimulai dengan kabar menyeramkan. Menyeramkan bagi dunia
media massa cetak. Paling tidak mengingatkan para pemilik koran "masa
lalu" (koran cetak yang sekarang ini terbit) bahwa di luar sana
sedang terjadi revolusi sunyi (silence revolution) yang perlahan tapi
pasti mengancam keberadaan koran cetak kini.

Masihkah para pemimpin redaksi atau pemilik koran cetak negeri ini
berdiam diri menanti meletusnya "revolusi sunyi" itu? Tajuk majalah
The Economist 26 Agustus 2006 muncul dengan peringatan keras: Who
killed the newspaper? Siapa yang mematikan koran? Jawabannya:
internet!

Menurut majalah itu, hampir sebagian besar koran cetak yang sekarang
ini ada telah kalah oleh internet. Media internet yang mampu
memadukan informasi, hiburan, pendidikan, sekaligus percakapan atau
interaksi langsung antarpengguna, sanggup membetot perhatian warga
melek internet dalam jumlah yang masif. Dari jumlah itu sebagian
pembaca koran.

Oplah koran di Amerika Serikat, Eropa Barat, Amerika Latin,
Australia, dan Selandia Baru dilaporkan turun dalam satu dekade
terakhir. Dalam tahun-tahun terakhir, internet telah mempercepat
penurunan oplah koran. Mengutip Philip Meyer dalam buku Vanishing
Newspaper, diperkirakan tahun 2043 koran cetak bakal mati di AS.
Padahal, Amerika dianggap sebagai bangsa yang sangat haus akan
bacaan.

Memang masih terlalu lama. Bahkan, sebagian bos atau pemilik koran
negeri ini beranggapan, kehadiran radio dan disusul televisi tidak
mampu mematikan media massa cetak sampai saat ini. Itu betul.

Akan tetapi harus diingat, percepatan beralihnya pembaca atau pencari
informasi generasi baru tidak bisa ditandingi dengan kecepatan radio
dan televisi yang lambat berpengaruh. Ini karena sifat interaktif
internet. Berita, misalnya, tidak lagi dijejalkan atas kemauan para
editor, sementara pembaca berlaku sebagai makhluk pasif yang dipaksa
menelan informasi. Di internet, berita menjadi percakapan
antarpengguna dan dapat dibuat oleh pewarta warga (citizen reporter).

Untuk sekadar mendapatkan informasi, pengguna internet cukup
melakukan chatting, gabung di mailing list, menelusur ensiklopedia
gratis di Wikipedia, menelisik peta gratis dari Google Map, mendengar
musik dan komedi/film di Myspace, curhat dan cari teman baru di
Friendster, baca berita di Ohmy News, main games interaktif di
Yahoo!. Juga bisa mengutak-atik blog yang disediakan gratis oleh
Blogspot.com, Blogsome.com atau Blogdrive.com, bahkan mendengar radio
atau menonton televisi digital.

"Anak-anak muda Inggris usia 15 sampai 24 tahun menghabiskan waktu
membaca koran nasional 30 persen lebih sedikit. Mereka (kini) mulai
menggunakan internet," demikian The Economist.

Shayne Bowman dan Chris Willis dalam Nieman Reports keluaran
Universitas Harvard edisi musim dingin 2005 mengingatkan kehadiran
media internet yang menyedot perhatian generasi muda. "Masa depan ada
di sini," kata mereka menunjuk internet. Mereka menyarankan agar
media massa konvensional yang sekarang ini ada, baik cetak maupun
elektronik, menyesuaikan diri dengan suasana yang sekarang sedang
terjadi.

Bagi Bowman dan Willis, internet telah menjadi saluran perubahan,
percepatan, perluasan, sekaligus perputaran gagasan. Media massa yang
memegang peran sebagai penjaga gawang berita kini terancam bukan oleh
kehadiran teknologi dan pesaing baru, tetapi oleh khalayak yang
menyajikan sendiri informasi yang mereka butuhkan.

Dan Gilmor, penulis buku We the Media dalam jurnal yang sama
mengatakan, perpaduan antara jurnalisme dan teknologi memungkinkan
percakapan sebagai berita, yakni percakapan dari, untuk, dan oleh
khalayak.

Ia menggambarkan, jika kehadiran telepon merupakan tonggak komunikasi
satu orang kepada orang lain (one-to-one communications) , dan media
massa abad ke-20 tonggak komunikasi satu orang kepada orang
banyak/khalayak (one-to-many communications) , "Maka, sekarang kita
sedang bergerak ke era komunikasi dari khalayak ke khalayak (many-to-
many communications) ."

Prospek iklan

Sebagian media massa mapan di Indonesia memang tidak berdiam diri.
Mereka sudah melengkapi diri dengan versi online.

Versi online haruslah menyediakan tempat "ngopi" atau berkumpulnya
anak-anak muda, yang selain dapat bertukar dan memperoleh informasi
mereka bisa chatting, main games interaktif, membuat blog, membuat
berita, mencari teman, men-down load musik, meng-up load video,
mengirim SMS gratis, bercakap-cakap murah lewat VoIP, mencari atau
menawarkan pekerjaan, melakukan pemesanan atau menjual barang, dan
masih serenceng aktivitas interaktif lainnya.

Mengapa insan koran cetak konvensional harus waswas akan tren
penggunaan media internet yang begitu masif secara mondial, tidak
lain karena pengaruhnya terhadap pemasang iklan. Para pebisnis media
menjual kata-kata kepada pembaca, kemudian menjual para pembaca
kepada pemasang iklan. Itulah aturan main yang selama satu abad lebih
berjalan dalam hukum media massa.

Peringatannya adalah para pemasang iklan (industri atau bisnis) akan
selalu mengikuti pembaca. Ibarat berdagang asongan, pengasong akan
selalu mencari orang banyak atau kerumunan. Di belahan dunia lain,
yakni di Eropa dan AS, internet kini muncul sebagai penggoda bagi
pemasang iklan.

Contoh paling gamblang yang dipaparkan majalah itu adalah iklan
terklasifikasi (classified adds) yang telah beralih cepat ke media
online. Jim Chrisholm dari iMedia, konsultan media massa, memprediksi
seperempat classified adds akan dimakan media digital dalam 10 tahun
mendatang. Disebutkan, koran menyerap 36 persen iklan dunia tahun
1995, turun menjadi 30 persen tahun 2005, dan akan terus turun 5
persen lagi sampai tahun 2015.

Kiamat memang belum tiba bagi media massa kini. Dalam laporan
berjudul More media less news, The Economist memaparkan sejumlah
media massa di berbagai belahan dunia yang sukses setelah
bermetaforfosis menjadi koran maya di internet, meski mereka
melakukannya malu-malu dan defensif. Malu-malu karena masih
mempertahankan gaya lamanya sebagai media massa cetak dan menggarap
versi online-nya lebih serius lagi.

Rupert Murdoch pernah menggambarkan industri media massa sebagai
sungai emas. Tetapi, tahun lalu saat sang raja media kelahiran
Australia ini terjun ke dunia digital dan melihat internet sebagai
peluang bisnis baru, ia tak ragu menelan ludahnya sendiri dengan
mengatakan, "Tetapi, kadang-kadang sungai bisa kering."

Itu sebabnya, Murdoch berani membeli situs Myspace.com milik anak
muda Tom Anderson dan Chris deWolfe seharga 580 juta dollar AS (Rp
5,8 triliun), sebagaimana dilaporkan majalah Fortune edisi 4
September 2006. Murdoch tidak melihat lagi emas dalam industri media
massa konvensional, tetapi melihat emas yang lebih mengilat di media
internet!

Situs Myspace.com yang merupakan tempat mangkalnya anak-anak muda
cyber, khususnya di AS dan Eropa, kini diklik 100 juta pengunjung
setiap harinya, menggeser posisi mesin pencari Google.com di tempat
kedua. Tempat pertama lalu lintas tersibuk untuk pengunjung cyber
masih dipegang Yahoo!

Jelaslah hukum media massa berlaku bahwa pemasang iklan akan
menawarkan barang dagangan mereka di kerumunan orang banyak.
Kerumunan orang banyak itu tidak lain ada di media internet yang
diam, tetapi sedang menggelorakan revolusi itu.

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0609/22/sorotan/2967623.htm

Sphere: Related Content

1 komentar:

tiEna said...

pagi..(saya nulis ini waktu pagi)
saya Uti, Ti baru aja baca "menanti meletusnya revolusi sunyi" sama "mencermati manuver murdoch"
Dari 2 tulisan itu menurut ti intinya adalah bahwa media cetak sekarang sudah mulai kalah saing sama internet,media cetak yang kekuatan interaktif dengan pembacanya sedikit sudah kalah saing dengan internet yang selalu online, dengan hadirnya internet media cetak juga kehilangan pembacanya dari kalangan remaja (yang memang pembaca muda dari awalnya sudah minim).
Trus Uti mau nanya boleh ngga ya..?
Kalo Ti liat dari beberapa media cetak sekarang, untuk mengatasi ketakutannya terhadap internet selain mereka juga membuat media online, media cetak kaya' Kompas, Pikiran Rakyat juga Media Indonesia udah mulai membuat halaman baru. Kompas dengan Halaman Mudanya, Pikiran Rakyat dengan Lembaran Belia.
Mereka membuat halaman baru dengan menjadikan remaja sebagai sasaran, menyajikan berita dengan gaya tutur remaja dengan muatan berita yang dapat menarik minat pembaca remaja bahkan pembaca remaja bisa menjadi penulis berita itu sendiri yang nantinya akan dimuat pada halaman tersebut.
Apa betul itu merupakan salah satu cara yang media cetak pakai untuk menggaet para pembaca muda? Efektifkah hal tersebut?
Terimakasih... Matur nuwun sanget