03 August, 2008

Panasonic Gobel Indonesia menggelar Kid Witness News 2008




Ajang kreatif bagi anak-anak Indonesia membuat video bertema Lingkungan Hidup



Panasonic Gobel Indonesia kembali menyelenggarakan lomba tayangan video tingkat anak-anak bertajuk Kid Witness News (KWN) Indonesia 2008. KWN merupakan ajang kompetisi pembuatan video singkat untuk pelajar usia 10-15 tahun se-Indonesia, bertemakan Lingkungan Hidup. Di Indonesia, KWN pertama kali diselenggarakan pada 2004, dan tahun ini adalah kompetisi yang ke-5 kalinya.

”Tujuan utama kami menggelar event ini adalah untuk menstimulasi kreativitas di kalangan para siswa dan memunculkan kemampuan berkomunikasi di antara mereka. Selain itu, ajang ini ditujukan untuk menciptakan kerja sama tim di antara para siswa dalam mengerjakan tugas di lapangan dan aktivitas lain terkait dengan pembuatan film tersebut,” tutur Siswanto Karyogoeno, Direktur Panasonic Indonesia. ”Oleh karena itu kami berupaya menyediakan wadah untuk mengasah sisi pendidikan anak lewat program yang menarik ini. Kami yakin KWN dapat menstimulasi daya inovasi, pemahaman, kreativitas dan analisa para pesertanya,” lanjut Siswanto.

Di tahun yang kelima ini, KWN Indonesia mendapat restu dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Indonesia, serta mendapat dukungan penuh dari para mitra yaitu Institut Kesenian Jakarta (Fakultas Film & Televisi), Trans 7, Female Radio, PT. Padang Digital Indonesia, Hope Worldwide Indonesia, WWF dan PT. Senjaya Bersama Utama. “ Harapan kami dengan kerja bareng bersama para mitra yang berdedikasi dan berkompeten ini, kami bisa terus meningkatkan kualitas KWN Indonesia, setara dengan negara-negara maju lain,” tutur Susy Darmayanti, Corporate Communication PT Panasonic Gobel Indonesia (PGI).

Seperti tahun lalu, tema tahun ini adalah Lingkungan Hidup. Harapan dari panitia KWN Indonesia 2008 ini, para peserta bisa menampilkan karya yang lebih kental dari sisi lokalitas dan positif dari Lingkungan Hidup di Indonesia, untuk itu subtema yang dipilih adalah “Lihat sekitarmu dan ceritakan pada Dunia”. Menurut Subagjo Budisantoso, pengajar IKJ sekaligus salah satu juri KWN Indonesia 2008, “Indonesia kaya akan berbagai aktivitas pelestarian lingkungan hidup yang sangat positif di seluruh yang bisa kita perlihatkan kepada dunia. Lewat KWN ini, kami yakin anak-anak Indonesia bisa menyajikan karya mereka untuk mendukung pelestarian lingkungan.”



KWN Indonesia 2008

Persyaratan untuk mengikuti KWN 2008, satu kelompok peserta terdiri dari 2-10 siswa dan didampingi seorang guru pembimbing. Pada tahap awal seluruh peserta dari seluruh kota di Indonesia akan dikompetisikan untuk membuat storyline/naskah/jalan cerita yang kemudian oleh tim juri dari seluruh partner akan disaring (screening) menjadi 10 storyline terbaik dan kemudian mereka akan mendapatkan training dan pelatihan pembuatan video dari PGI dan Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Pelatihan IKJ diberikan bertujuan bukan sekadar memberikan kemampuan para finalis untuk memberikan sentuhan estetis pada setiap karyanya akan tetapi harapannya adalah agar mereka bisa melahirkan karya monumental dan menjadi kebanggaan bangsa.

Tahapan berikutnya, bagi peserta yang lolos 10 besar, Panasonic memberikan hadiah berupa masing-masing 1 unit Panasonic Ecam NV GS330 dan menyediakan berbagai perangkat produksi lengkap seperti , yakni (1) Panasonic AVC HD Camera HMC 72 + Tripod; (2) Panasonic SD Card; (3)Panasonic Microphone (+ KWN Cube); (4) KWN Shirt/Vest, Badge, Clipboard and Pen. Selain itu, Panitia juga memperlengkapi peserta dengan DVD + Buku Panduan bagi Siswa dan Guru.

Aspek penjurian video terdiri dari 5 bidang, yakni (1) Aspek penulisan meliputi kreativitas, originalitas, dan kandungan lokal; (2) Aspek Videografi meliputi kualitas gambar, fokus objek, tata cahaya dan warna; (3) Aspek Suara meliputi kejelasan suara, kemampuan narasi, efek suara dan musik; (4) Aspek Editing meliputi harmonisasi dalam penggabungan klip-klip, efek visual, dan tampilan terjemahan dalam bahasa Inggris; (5) Aspek komprehensif meliputi kejelasan dan akurasi tema.

Susunan Dewan Juri KWN tahun ini di antaranya Subagjo Budisantoso (IKJ), Brigitta Isworo Laksmi (senior journalist) dan para juri dari seluruh partner yaitu dari KLH, Trans 7, Female Radio, PT Padang Digital Indonesia, Hope Worldwide Indonesia, WWF dan PT Senjaya Bersama Utama.

Karya peserta kompetisi KWN dalam format video berdurasi maksimal 5 menit dengan berbagai alternatif konten, antara lain film dokumenter, reportase, drama, animasi kartun, dan materi kreatif lainnya. Seluruh pengambilan gambar menggunakan Panasonic Camera dan hasil video direkam dalam DVD Panasonic. Transkrip ucapan bahasa Indonesia dan diterjemahkan dalam teks berbahasa Inggris.


Catatan dari KWN 2007 yang lalu

Juara KWN Indonesia 2007 lalu adalah pelajar dari Jubilee School–Jakarta Utara, dengan karya berjudul "Bakau". Tim ini terdiri dari Adeline Tiffanie Suwana, Sean TP Kusmuljadi dan Monica Celine Sutiono, pembimbing Aidil Farhan dan kepala sekolah Shantyaswari Prihandini. Karya ini berhasil masuk lima besar (Top 5) KWN Global 2008, untuk bersaing dengan 4 negara lainnya: Inggris, Amerika Serikat, Polandia, dan Hongkong, plus negara tuan rumah, Jepang. Di KWN Global 2008 yang berlangsung di Tokyo, Jepang pada 19 Juni 2008 lalu, Jubilee School berhasil meraih 2 Awards: Ecology Award dan Web Award (website vote). Web awards sendiri merupakan salah satu kategori yang sangat menarik karena dipilih langsung oleh pengakses web KWN.

“Mereka berhasil membuka sebuah wacana di dunia internasional bahwa anak Indonesia memiliki kreativitas tinggi dalam menghasilkan video bermutu. Tidak ada rasa gentar dari putra-putri kita dalam menghadapi peserta dari lima negara lain, malah sebaliknya mereka mampu meraih dua penghargaan sekaligus. Terpilihnya tim Indonesia sebagai juara kategori membuktikan bahwa mereka mampu menerjemahkan konsep mereka di dalam alur cerita yang menarik bagi khalayak ramai,” jelas Susy Darmayanti. Tak lupa ia berharap semoga pemenang dari Indonesia kelak dapat mencetak prestasi di ajang KWN Global, seperti yang telah ditorehkan oleh pemenang KWN Indonesia tahun-tahun sebelumnya.


Sekilas tentang KWN

Penyelenggaraan KWN dimulai pada tahun 1989 oleh Panasonic Amerika Serikat. Kemudian menyebar ke negara lain di Eropa, Asia dan Jepang. Hingga saat ini, tidak kurang dari 10.000 pelajar dari 626 sekolah di 24 negara telah berpartisipasi dalam program tahunan tersebut. Di Indonesia, KWN pertama kali diselenggarakan pada 2004. KWN dirancang sebagai program untuk meningkatkan kreatifitas dan kerjasama para siswa. Dengan bimbingan para gurunya, dari KWN ini diharapkan para siswa bisa meningkatkan kepekaan mereka terhadap lingkungan dan tempat tinggal mereka.

Untuk keterangan lengkap KWN Global, silakan klik ke

http://panasonic.net/kwn

dan KWN Indonesia ke

www.panasonic.co.id

atau

www.kwn-id.com

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:
Susy Darmayanti
Corporate Communication – PT. Panasonic Gobel Indonesia
Jl. Dewi Sartika 14 (Cawang II), Jakarta 13630
Phone : +62-21-8090108 ext.2601
Fax : +62-21-80883504
e-mail : susy.darmayanti@id.panasonic.com

Sphere: Related Content

8 komentar:

paank said...

Mampir berkunjung sekalian bacabaca informasi mas.
Salam kenal

Haryo Bagus Handoko said...

Permisi, mau numpang promosi buku, boleh ya...?

Sinopsis buku tanaman hias terbaru – “Pachypodium”, terbitan Gramedia Pustaka Utama

Judul buku: Pachypodium - Panduan Lengkap Merawat dan Membudidayakan Pachypodium Anda agar Tumbuh Prima
Jumlah halaman: 126 halaman
Pengarang: Haryo Bagus Handoko
*) Penulis adalah juga pengurus komunitas penulis Forum Penulis Kota Malang (http://www.fpkm.org)
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Pertama, Agustus 2008
Profil buku: http://pachypodium-indonesia.blogspot.com/

Bisa dibeli di toko-toko buku terdekat di kota Anda.
Available in http://www.gramedia.com & http://togamas.co.id
Beli secara online di :
http://www.gramedia.com/buku_detail.asp?id=IHEO4253&kat=3

Pachypodium Tanaman Purba yang Langka nan Eksotis

Tanaman hias Pachypodium sebenarnya pernah populer di Indonesia sekitar era tahun 1990-an. Namun entah mengapa baru pada awal tahun 2007 minat terhadap tanaman ini kembali marak. Padahal di luar negeri, sudah lebih dari seratus tahun, para peneliti maupun para hobiis dan kolektor tanaman langka memburu dan mengkoleksi tanaman yang terancam punah ini. Pachypodium yang konon dipercaya sudah hidup sejak jutaan tahun lalu sebelum era jaman kapur, merupakan tanaman yang secara fleksibel terus berevolusi dan menyesuaikan diri terhadap habitat di mana ia tumbuh. Sisa tanaman purba yang tetap bisa bertahan hidup dan lestari hingga sekarang ini telah menarik minat para peneliti maupun para kolektor tanaman langka sejak akhir abad ke-18. Spesies-spesies baru Pachypodium terus bermunculan, karena evolusi yang terjadi pada tanaman ini terus melahirkan spesies-spesies maupun hibrida-hibrida baru, tidak hanya di habitat aslinya di Madagaskar, namun juga di berbagai belahan benua di mana tanaman ini dapat tumbuh dan berevolusi. Konon masih ratusan spesies tanaman Pachypodium yang belum teridentifikasi maupun terklasifikasi, sementara baru sekitar 25 spesies saja yang dikenal secara luas di dunia. Di Indonesia, yang baru mengenal tanaman ini sejak era tahun 1990-an, spesies-spesies yang dibudidayakan masih terbatas (sekitar kurang lebih 15 species yang beredar/dijumpai di Indonesia) karena kesesuaian syarat tumbuh maupun terhambat masalah proteksi yang diberlakukan di negara asalnya, yaitu Madagaskar, maupun negara-negara lain di Afrika Selatan. Walau demikian beberapa spesies tanaman Pachypodium telah menarik perhatian para pecinta tanaman hias di Indonesia karena bentuk bonggolnya yang ditumbuhi duri serta bentuk daun maupun bunganya yang cantik.
Buku yang sederhana ini mencoba mengupas berbagai hal di balik budidaya dan perawatan tanaman Pachypodium. Kehadiran buku ini diharapkan dapat menambah wawasan maupun mengobati rasa penasaran para pecinta Pachypodium untuk mengenal lebih jauh jenis-jenis yang ada dan belajar lebih banyak mengenai bagaimana cara budidaya dan perawatannya.
Pachypodium merupakan tanaman asli (tanaman endemik) di Pulau Madagaskar maupun Afrika bagian selatan seperti Angola, Botswana, Mozambique, Namibia, Afrika Selatan, Swaziland, dan Zimbabwe. Walau banyak orang menganggap bahwa Pachypodium serupa dengan tanaman kaktus, dan bahkan ada pula yang menganggapnya tergolong tanaman hias palem. Beberapa orang Eropa bahkan menjuluki tanaman yang satu ini dengan sebutan Madagascar palm atau palem dari Madagaskar. Tentu saja hal ini salah kaprah. Sesungguhnya tanaman hias Pachypodium masih terhitung kerabat dekat tanaman Adenium. Hal ini karena Family Apocynaceae memiliki tiga genera (genus) yang dapat digolongkan sebagai tanaman sukulen, yaitu Adenium, Pachypodium dan Plumeria (pohon Kamboja). Maka sungguh tak mengherankan bahwa penampakan morfologis Pachypodium ini mirip sekali dengan Adenium, mulai dari batang, daun, maupun bunganya, walau secara fisiologis serta dalam beberapa hal, Pachypodium memiliki sifat khusus yang membedakannya dengan tanaman Adenium.
Di masa lalu, klasifikasi tanaman Pachypodium sempat menjadi bahan perdebatan dalam genus mana ia harus digolongkan. Beberapa ahli ada yang menggolongkan tanaman purba ini dalam genus Echites sementara yang lain beranggapan bahwa tanaman ini sebaiknya diklasifikasikan dalam genus yang berbeda atau pun genus yang baru. Akhirnya pada tahun 1830, atas inisiatif Leandley, tanaman ini disepakati untuk digolongkan sebagai genus yang unik terpisah dari genus Echites, yaitu genus Pachypodium. Perdebatan masih terus berlanjut seputar spesies-spesies unik Pachypodium yang ditemukan di belahan selatan benua Afrika. Pada tahun 1892, Baker menemukan bahwa spesies-spesies unik sebetulnya lebih banyak ditemukan di sisa pecahan benua kuno, yaitu di Pulau Madagaskar dan akhirnya penelitian mengenai tanaman Pachypodium mulai terfokus pada spesies-spesies yang ada di Pulau Madagaskar sehingga penelitian mengenai Pachypodium mulai terfokus pada spesies-spesies yang ada di Pulau Madagaskar hingga pada sekitar tahun 1907, Constantin dan Bois – dua orang peneliti tanaman mulai membuat monograf pertama (peta lokasi habitat dan persebaran spesies-spesies Pachypodium lengkap dengan klasifikasinya) yang saat itu sudah ditemukan sekitar 17 spesies Pachypodium, dimana 10 spesies berasal dari Madagaskar sementara 7 lainnya dari berbagai lokasi yang ada di benua Afrika. Monograf ini mirip dengan monograf yang pernah dibuat oleh Alexander von Humboldt, seorang ahli biologi yang pernah membuat monograf berbagai jenis flora dan fauna yang ada di Pulau Galapagos, seperti yang pernah dilakukan pula oleh Charles Darwin untuk berbagai spesies flora dan fauna yang ada di Pulau Galapagos. Bahkan Pulau Madagaskar dipercaya lebih mempunyai keanekaragaman flora dan fauna dibanding Pulau Galapagos yang sama-sama merupakan sisa-sisa peninggalan atau pecahan benua kuno.
Tanaman Pachypodium hadir dengan pesona yang mengagumkan, seakan merangkum pesona keindahan bunga dan batang Adenium sekaligus pesona duri unik dari Euphorbia sebagai tanaman hias berduri. Walau sosok tanaman Pachypodium tampak cantik, namun tanaman ini hanya bisa difungsikan sebagai tanaman hias dan tidak bisa dimakan, karena seluruh bagian tanaman, terutama getahnya sangat beracun. Getahnya yang beracun bisa menimbulkan iritasi pada kulit bila terkena tangan, dan bahkan bisa menyebabkan kebutaan bila getah tersebut sampai terkena mata. Getah Pachypodium yang beracun, di Afrika bahkan bisa dimanfaatkan untuk membalur ujung mata panah atau mata tombak untuk keperluan berburu. Durinya juga cukup beracun dan dapat menyebabkan iritasi pada kulit bila tangan kita sampai tertusuk oleh duri tersebut. Nama Pachypodium sendiri berasal bahasa latin yang berarti si kaki gemuk (pachy = gemuk , podium = kaki). Semua tanaman Pachypodium merupakan jenis tanaman sukulen yang batangnya berbonggol gemuk (pachycaule) serta memiliki duri hampir di sekujur bagian tubuhnya. Kedua ciri utama ini merupakan adaptasi Pachypodium terhadap lingkungan habitat aslinya di Afrika yang beriklim gurun (arida) yang kering, serta bersuhu ekstrim di mana perbedaan suhu antara siang dan malam sangat fluktuatif. Di Afrika dan Madagaskar, tempat tanaman ini berasal, Pachypodium biasa tumbuh di bebatuan yang ada di lereng-lereng pegunungan kapur, atau tebing-tebing cadas berbatuan granit yang curam, karang terjal, dan bukit atau tebing berbatuan kuarsa (quartzite). Kemampuan adaptasi secara fleksibel inilah yang membuat spesies-spesies Pachypodium mampu bertahan hidup dan terus lestari hingga sekarang sejak jutaan tahun yang lalu (diduga sudah ada sejak akhir jaman Triasik – antara 160 juta hingga 230 juta tahun yang lalu). Walau begitu, anehnya hingga saat ini belum ditemukan satu pun fosil spesies tanaman Pachypodium, padahal Pachypodium diduga sudah ada sejak daratan Afrika dan Pulau Madagaskar bersatu dalam sebuah benua kuno yang bernama Gondwana di akhir jaman Triasik. Gondwana adalah sebuah benua kuno berukuran raksasa di mana saat itu benua Afrika, Pulau Madagaskar, India, benua Amerika bagian selatan, benua Australia, New Zealand, dan Antartika masih bersatu dalam satu daratan. Pada saat itu Pulau Madagaskar bersambungan langsung dengan bagian selatan daratan benua Afrika yang sekarang, dan juga daratan India yang sekarang merupakan semenanjung India (Peninsular India). Setelah benua kuno – Gondwana, tersebut pecah (yang terjadi pada akhir jaman Cretaceous / jaman kapur – 90 hingga 88 juta tahun yang lalu), akibat pergerakan lempeng tektonik bumi, Pulau Madagaskar yang saat itu masih bersatu dengan daratan India serta benua-benua lain seperti Afrika, Amerika, Australia, dan Antartika memisah. Selama berjuta tahun, Pulau Madagaskar dan daratan India kuno bersatu dalam benua kecil (pulau besar) yang terisolir. Hingga akhirnya pada sekitar 88 juta tahun yang lalu, Madagaskar dan India yang tadinya bersatu dalam satu daratan kemudian memisah. Daratan India kemudian bersatu dengan benua Asia hingga sekarang. Itulah sebabnya tanaman Pachypodium masih terus lestari yang bertahan hidup hingga sekarang dan paling banyak dijumpai tumbuh di Pulau Madagaskar. Tanaman ini telah melewati berbagai tahap adaptasi dan evolusi selama jutaan tahun hingga tetap hidup lestari hingga sekarang. Walau banyak orang mengemukakan bahwa Pachypodium adalah tanaman endemik Afrika dan Pulau Madagaskar, namun beberapa spesies baru maupun spesies yang belum dikenal, banyak bertebaran di India, Amerika dan Australia. Hal ini tidak mengherankan, karena jutaan tahun yang lalu, Afrika, Madagaskar, India, Amerika dan Australia adalah tergabung dalam satu daratan atau benua kuno yang bernama Gondwana. Di Afrika dan Madagaskar sendiri hingga saat ini, masih ratusan jenis Pachypodium liar yang masih belum dikenal dan juga belum teridentifikasi atau pun diklasifikasi. Jadi penyebaran tanaman Pachypodium mungkin sudah terjadi sejak jutaan tahun yang lalu. Itulah sebabnya, spesies-spesies Pachypodium tidak hanya dijumpai di daratan Afrika dan Pulau Madagaskar saja, namun juga dijumpai di gurun-gurun pasir yang ada di India, Amerika dan Australia. Bukan hanya spesies-spesies tanaman saja yang mirip antara yang ada di Madagaskar dan di India, spesies-spesies hewan yang ada di Madagaskar, beberapa jenis juga bisa dijumpai di India.
Di masa sekarang, dalam perkembangan selanjutnya, tanaman Pachypodium kemudian menyebar dari Afrika ke seluruh penjuru dunia, termasuk Eropa, dan Asia. Di Eropa yang beriklim subtropis, umumnya tanaman ini dibudidayakan dalam rumah kaca dengan pengaturan mikroklimat dan juga media tanam yang diatur semirip mungkin dengan habitat aslinya di Afrika. Pachypodium berasal dari kerabat atau Famili Apocynaceae atau di beberapa negara barat biasa dikenal dengan kerabat tanaman Periwinkle (Catharantus roseus). Beberapa tanaman yang berasal dari famili Apocynaceae dan cukup dikenal antara lain adalah Periwinkle (Catharantus roseus), Adenium (Adenium sp) atau biasa disebut mawar gurun / desert rose, kamboja (Plumeria sp) dan Oleander (Oleander sp). Pachypodium banyak tumbuh dan dijumpai di Benua Afrika dan Pulau Madagaskar. Di daratan Afrika terdapat 4 spesies utama Pachypodium yang berasal dari daratan benua Afrika yaitu Pachypodium succulentum, Pachypodium bispinosum, Pachypodium namaquanum dan Pachypodium lealii. Juga terdapat pula sebuah subspesies yang dikenal dengan Pachypodium lealii Saundersii. Semuanya tumbuh dengan baik di bagian selatan benua Afrika, khususnya di Afrika Selatan. Sedangkan jenis-jenis Pachypodium yang lain (sekitar 20 spesies) merupakan tanaman asli Pulau Madagaskar, sebuah pulau kecil yang berdekatan dengan benua Afrika. Tanaman ini sering disamakan dengan tanaman kaktus, walau tanaman ini termasuk tanaman sukulen. Memang tanaman kaktus termasuk tanaman sukulen, tetapi tidak semua tanaman sukulen adalah tanaman kaktus. Tanaman ini semakin digalakkan budidayanya di habitat aslinya di Madagaskar mengingat semakin berkurangnya hutan di pulau tersebut dalam beberapa ratus tahun terakhir, yang mengakibatkan spesies Pachypodium ini termasuk dalam kategori tanaman langka yang dilindungi karena hampir punah. Penelitian terhadap tanaman Pachypodium sudah berjalan sejak lebih dari seratus tahun lalu, di mana pemerintah Madagaskar telah bekerja sama dengan begitu banyak instansi dan lembaga penelitian baik di dalam negeri maupun yang berasal dari luar negeri. Tanaman Pachypodium sendiri bahkan juga digolongkan sebagai salah satu tanaman langka dunia dan terdaftar dalam appendiks 1 indeks CITES (The Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora), yaitu daftar tanaman langka dunia yang dilindungi.
Di Asia, termasuk Indonesia yang beriklim tropis, tanaman ini mulai dikenal di awal tahun 90-an dan terus dikembangkan hingga saat ini. Beberapa hobiis tidak hanya mengimpor biji-biji Pachypodium dari Afrika Selatan melalui Thailand, namun ada pula yang mengimpor komoditi ini dalam bentuk jadi. Tujuannya tak lain adalah untuk membudidayakan dan mengintroduksi tanaman ini untuk lebih dikembangkan di tanah air. Baru pada sekitar awal tahun 2007 mulai banyak para hobiis dan nurseri-nurseri di Indonesia yang mengimpor biji, maupun tanaman dewasa Pachypodium berbagai spesies dari Afrika, Thailand, Jerman, Perancis, Australia dan bahkan dari Amerika, karena tanaman ini kembali digemari para pecinta tanaman hias. Dalam buku terbaru yang membahas tentang tanaman Pachypodium ini, akan banyak dijumpai berbagai informasi terbaru mengenai bagaimana teknik budidaya yang baik, trik merangsang tanaman Pachypodium agar tumbuh menjadi tanaman yang kristata maupun varigata, serta trik bagaimana menstimulasi agar tanaman Pachypodium cepat berbunga. Teknik-teknik rahasia ini belum pernah dibahas sebelumnya dalam buku-buku yang lain. Hanya buku Pachypodium terbitan Gramedia Pustaka Utama inilah yang menyajikan berbagai informasi terlengkap dan terakurat yang bisa Anda dapatkan. Buku ini bisa diperoleh di toko-toko buku terdekat, terutama di toko buku Gramedia dan juga toko buku TogaMas.

Humorman said...

Kompetisi yang sangat menarik dan berguna bagi anak-anak Indonesia. Semoga bisa diteruskan di tahun-tahun mendatang.

arief said...

Informasi yang sangat menarik dan event yang bagus untuk anak anak.

thanks atas infonya

kunjungi site saya

www.pci-net.net
Akses Internet Murah Unlimited

blog corel said...

informasi yang anda berikan sesuai dengan konsep www.kapanpun.com. terimah kasih atas informasi yang anda berikan

Eky Dakka said...

INfonya bagus neh. thanks y.

Blog walking .. :)

Eky Dakka ______ Master Download ____ Earn More Cash ___ Cutom blog __ Surat Kita

Andri said...

wah bagus ada event seperti ini.. anak" bisa lebih creative.. ^^

Debt Counseling Help said...

nice blog