05 March, 2009

Majalah Padi

Sphere: Related Content

Mari Ngeteh, Mari Bicara....

Sphere: Related Content

Bango Cita Rasa Nusantara di Indosiar

Sphere: Related Content

20 February, 2009

Agenda Liputan

Agenda Liputan Januari - Maret 2009



______________________________________________

Dian Sastrowardoyo, Brand Ambassador Natur-E

Senin, 10 Maret 2009

"Natur-E Journey to Beauty"

Medan, Sumatra Utara

______________________________________________

Dian Sastrowardoyo, Brand Ambassador Natur-E

Senin, 16 Februari 2009

"Natur-E Journey to Beauty"

Kampus Universitas Widyatama, Bandung

______________________________________________

Dian Sastrowardoyo, Brand Ambassador Natur-E

Kamis, 5 Februari 2009

"Natur-E Journey to Beauty: Kick-Off"

Pizza Marzano, Senayan City, Jakarta

______________________________________________

Rabu, 28 Januari 2009

Sidang Tahap Tuntutan Jaksa
Kasus Dugaan Gratifikasi Mohammad Iqbal - Billy Sindoro

Sidang berlangsung di Pengadilan Tipikor, Jl. HR Rasuna Said, Jakarta

Mulai pukul 16.00 WIB.


______________________________________________

Rabu
, 7 Januari 2009

Sidang Keterangan Saksi Tahap III
Kasus Dugaan Gratifikasi Mohammad Iqbal - Billy Sindoro

Saksi 1: Bagus Purwantara , Security Manager Hotel Aryaduta. Sebagai penanggung jawab keamanan Gedung Hotel Aryaduta Jakarta.

Saksi 2: Endeh Saepul Rohim, Leader Security Hotel Aryaduta. Sebagai petugas pelaksana pengamanan, pengecekan dan pengawasan terhadap tamu dan fasilitas Hotel Aryaduta Jakarta.

Saksi 3: Reno Mardiansyah, Assistant Manager Hotel Aryaduta Jakarta. Sebagai petugas penerima booking via telefon dari Benedict Sulaiman (asisten Billy Sindoro), untuk pemesanan kamar type Ambasador Sweet di Hotel Aryaduta Jakarta.

Saksi 4: Teny Heryawan, Asisten Front Office Manajer Hotel Aryaduta Jakarta. Sebagai petugas registrasi check-in & check-out tamu Hotel Aryaduta Jakarta.


Sidang berlangsung di Pengadilan Tipikor, Jl. HR Rasuna Said, Jakarta

Mulai pukul 10.00 WIB.

______________________________________________

Sphere: Related Content

19 February, 2009

Butuh pekerjaan segera!

Sphere: Related Content

Poster film Ayat-Ayat Cinta menyontek film India

Sphere: Related Content

31 January, 2009

Mediacare




Sekadar imbauan:

Bacalah, dengarlah, tontonlah. Tapi gunakan nalar dan akal sehat Anda: Jangan percaya 100% pada media massa. Simak baik-baik, jangan telan mentah-mentah apa yang tersaji. Kupaslah, kunyahlah, saringlah, dan cermatilah dengan bijak apa yang mereka tuliskan, uarkan, siarkan, dan tayangkan.

Sphere: Related Content

28 January, 2009

Kasus gratifikasi KPPU: Prematur dilimpahkan ke pengadilan

Kasus gratifikasi KPPU: Prematur dilimpahkan ke pengadilan

Pengamat hukum Prof Andi Hamzah menilai kasus dugaan gratifikasi kepada komisioner KPPU M. Iqbal oleh mantan Presdir PT First Media Billy Sindoro, masih terlalu prematur untuk dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor.

"Masih banyak hal yang harus dibuktikan lagi oleh jaksa dalam tuntutannya pada kasus itu," katanya saat dihubungi di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Guru Besar Hukum Pidana Usakti itu mencontohkan apakah jaksa bisa membuktikan telah ada pembicaraan sebelumnya antara Iqbal dengan Billy terkait besaran suap yang akan diberikan Billy tersebut.

Demikian pula dengan keberadaan tas berisi uang tunai senilai Rp500 juta yang selanjutnya dijadikan barang bukti penyuapan, menurut Andi Hamzah, juga masih simpang siur statusnya.

"Iqbal sendiri mengatakan bahwa dia tidak tahu apa isi tas itu, apakah uang, buku, burung, atau apa," ujarnya.

Seharusnya, menurut Andi, petugas KPK membiarkan beberapa saat Iqbal dengan tas itu sehingga ada kesempatan ia membuka tas dan mengetahui terlebih dahulu apa isinya dan kemudian baru dilakukan penangkapan.

Sebelumnya dalam persidangan Tipikor, Iqbal mengungkapkan bahwa Billy Sindoro akan menyampaikan terima kasih kepadanya namun dia tidak pernah menyebutkan soal uang maupun janji dan rencana memberikan sesuatu kepada komisioner KPPU.

Iqbal dan Billy tertangkap tangan oleh KPK di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu dan Iqbal tengah memegang tas hitam berisi uang Rp500 juta, yang diduga diterimanya dari Billy. Soal tas itu, Iqbal berdalih bahwa ia berencana melaporkannya ke pimpinan KPPU.

Pada sesi persidangan lainnya, saksi pengacara Hotman Paris Hutapea mengaku bahwa Billy Sindoro telah meminta Hotman menjadi kuasa hukumnya dan dia pun telah membawa uang senilai Rp500 juta sebagai uang muka atau "down payment" untuk itu. Sejumlah saksi lainnya juga mengungkapkan hal yang sama.

Dengan adanya berbagai ketidak jelasan itu, menurut Andi Hamzah, jaksa masih perlu mengorek berbagai keterangan lanjutan dari saksi-saksi yang ada demi menguatkan bukti telah terjadi penyuapan.

Selain itu, katanya lagi, jaksa juga perlu meminta keterangan dari komisioner KPPU lainnya tentang seberapa besar peran Iqbal dalam setiap pengambilan keputusan di institusi itu, khususnya yang terkait dengan dugaan monopoli PT Direct Vision, yang menaungi Astro, atas penayangan Liga Inggris.

Dengan demikian, ia menambahkan, kasus tersebut masih terlalu cepat dibawa ke pengadilan karena jaksa seharusnya mencari bukti-bukti yang lebih menguatkan lagi untuk menyusun dakwaannya.

(Andreas Bimo)

Neraca - 28 January 09, Halaman 12

Sphere: Related Content

Menyimak sidang kasus dugaan suap Billy - Iqbal

Menyimak sidang kasus dugaan suap Billy - Iqbal

Oleh: Prof Dr Andi Hamzah


Pada Senin (19/1) saya menonton sidang di Pengadilan Tipikor Jalan Rasuna Said Kuningan Jakarta karena ingin melihat kawan saya, Dr Adriawan Dg Tawang (dosen Universitas Trisakti) yang memberikan keterangan sebagai Ahli Hukum Pidana atau biasa disebut Penalis.

Penalis adalah seorang sarjana hukum yang mengkhususkan diri memperdalam pengetahuannya mengenai hukum pidana. Penalis adalah doktor hukum pidana dan/atau guru besar hukum pidana dan/atau dosen senior hukum pidana dan menulis buku hukum pidana.

Dalam kasus dugaan korupsi penyuapan terhadap Ketua KPPU Muhammad Iqbal yang diajukan oleh Billy Sindoro dan penasehat hukumnya terjadinya dwaling (kekeliruan) penyerahan tas dari Billy kepada Iqbal, karena dikira tas itu kepunyaan Iqbal.

Ini merupakan alibi yang dengan sendirinya harus dibuktikan sebaliknya oleh penuntut umum dengan alat bukti yang ada bahwa memang Billy sengaja memberikan tas yang ternyata isinya sesudah dibuka oleh petugas KPK berisi uang Rp 500 juta rupiah. Yang berarti juga, harus dibuktikan bahwa Billy memang telah menjanjikan memberikan uang sebesar itu kepada Iqbal, apakah berdasarkan keterangan dari Billy dan Iqbal.

Atau, dengan alat bukti lain seperti surat atau ada saksi mendengar bahwa Billy memang telah menjanjikan memberikan uang sebesar itu karena mengetahui bahwa Iqbal telah berbuat sesuai dengan keinginan Billy (Pasal 5 ayat 1b Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi / UUPTPK) atau Billy mengetahui bahwa pemberian yang itu dimaksudkan karena Iqbal mempunyai kedudukan yang melekat padanya sebagai pegawai negeri atau penyelenggara negara anggota KPPU (Pasal 13 UUPTPK).


Dua alat bukti

Masalah paling sulit dibuktikan ialah bagaimana jika ternyata Iqbal, setelah membuka tas di rumahnya atau di tempat lain, menolak untuk menerima dan mengembalikan kepada Billy atau dia melaporkan gratifikasi itu kepada KPK?

Jika dia berbuat demikian, dengan sendirinya dia tak akan dapat dipidana. Akan tetapi hal itu tidak terjadi karena dia tidak diberikan kesempatan melihat isi tas untuk memilih; menerima, menolak, atau melaporkan kepada KPK.

Dengan demikian ada kekeliruan prosedur. Semestinya petugas KPK jangan menangkap Iqbal dulu, melainkan membiarkan dia membawa tas ke rumahnya. Setelah dia buka dan tidak mengembalikan kepada Billy, baru ditangkap. Seseorang yang menerima gratifikasi setelah melihat benar bahwa itu adalah uang dan mengembalikan kepada si pemberi, tidak terjadi tindak pidana penyuapan. Begitu pula jika dia melaporkan kepada KPK dalam tempo satu bulan.

Pengalaman saya sebagai jaksa, pada tahun 1963, pernah seorang ibu yang suaminya sementara ditahan oleh kejaksaan bertamu di rumah saya di Manado dan bercerita bahwa anak buah saya salah tangkap dan menahan suaminya. Saya menerangkan bahwa saya akan pelajari kasusnya esok hari dan jika dia melakukan hanya penganiayaan ringan tentu akan dilepaskan besok dari tahanan. Sewaktu dia minta diri pulang, dia meletakkan bungkusan di atas meja tamu. Setelah dia pergi, saya membuka bungkusan itu yang ternyata isinya uang 500 ribu rupiah. Jumlah yang sangat besar kala itu.

Saya saat itu masih kos dan minta ibu kos saya membawa uang itu ke rumah ibu itu naik dokar dan mengembalikan kepadanya. Andaikata waktu itu sudah ada KPK, dan tiba-tiba masuk ke rumah kos saya, kemudian membuka bungkusan sebelum saya membukanya, saya akan celaka.

Alibi yang dikemukakan dalam kasus KPPU itu bertambah kuat dengan keterangan saksi advokat Hotman Paris yang mengatakan bahwa memang pernah dihubungi untuk diminta menjadi penasihat hukum oleh Billy. Billy menerangkan bahwa uang sebesar 500 juta rupiah itu sedianya untuk fee Hotman Paris.

Jadi, hal ini merupakan masalah pembuktian dan harus ada dua alat bukti ditambah keyakinan hakim. Hakim juga harus yakin bahwa benar-benar tidak ada kekeliruan pemberian tas yang didukung dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti. Jika tidak, berarti terjadi kekeliruan.


Penulis adalah Ketua Tim Penyusun UU PTPK No. 31/1999 dan Konseptor UU No. 20/2001

Investor Daily - 27 January 09, Halaman 4

Sphere: Related Content

23 January, 2009

Pemerintah hentikan 41 siaran televisi

JUMAT, 23 JANUARI 2009 | 11:13 WIB

JAKARTA, JUMAT — Banyak warga di daerah yang kini tak bisa lagi menonton televisi. Dalam empat bulan terakhir, Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) sudah menonaktifkan 41 siaran stasiun televisi nasional dan lokal di 33 provinsi. Sebabnya, ada masalah pada izin penyiaran dan penggunaan frekuensi stasiun-stasiun itu.

Di Banjarmasin, misalnya, dari 14 stasiun televisi yang semula siaran, 10 di antaranya telah berhenti mengudara. Di Surabaya, delapan dari 46 stasiun televisi tiba-tiba lenyap. "Kami telah menonaktifkan secara bertahap sejak September tahun lalu," kata Gatot S Dewa Broto, Kepala
Pusat Informasi dan Hubungan Masyarakat Depkominfo.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI) Uni Lubis mengaku belum menerima laporan secara resmi dari anggotanya mengenai penonaktifan beberapa siaran televisi di daerah. "Jika benar, pasti akan ada kerugian. Tapi, besarnya berapa saya belum bisa mengatakan," tandasnya.

Uni lalu mempersoalkan regulasi perizinan yang inkonsisten. Contohnya, penyataan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menyebut izin penyiaran cukup di tingkat provinsi. "Praktiknya, Komite Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) menerapkan perizinan hingga tingkat kabupaten dan kota," katanya.

Adji Soera Atmada, Kepala Komunikasi Korporat Metro TV, membenarkan siaran mereka di sejumlah daerah tak lagi mengudara karena masalah perizinan. "Namun, jika siaran mandek yang rugi justru masyarakat. Mereka tidak bisa mendapatkan akses informasi," ungkapnya.

Meski begitu, pengelola televisi nasional tak mengkhawatirkan dampak berhentinya siaran di beberapa daerah terhadap pendapatan iklan. Hubungan Investor PT Multimedia Nusantara Citra (MNC) David Audi mengaku, sejauh ini tidak ada komplain dari para pemasang iklan. "Selama ini, 90 persen iklan justru berasal dari Jakarta," tukasnya.

Sebaliknya, anggota Masyarakat Pers dan Penyiaran Indonesia (MPPI), Agus Pambagio, malah menilai pemerintah lamban bertindak. la menuding pelanggaran ini terjadi sejak lama. "Kami meminta semua pelanggaran segera ditindak," ungkapnya. (KONTAN)

Yudo Widiyanto


http://www.kompas.com/read/xml/2009/01/23/1113067/pemerintah.hentikan.41.siaran.televisi

Sphere: Related Content

Kiat caleg mendongkrak suara: Mendompleng popularitas anaknya

Sphere: Related Content

Pecinta kuliner di dunia maya: Dari ngobrol makanan sampai bikin bisnis


Pasukan Kobama saat beraksi di Surabaya


Sejak makin maraknya acara kuliner di layar kaca, semua orang jadi tertarik menjelajahi pusaka kuliner Nusantara. Tak hanya itu, di dunia maya pun soal masakan ramai dibincangkan. Bahkan ada komunitas khususnya.

Dunia maya menawarkan banyak hal menarik untuk ditelusuri. Salah satunya, beragam informasi tentang masakan dan tempat wisata. Tak hanya situs tentang aneka resep atau obyek wisata saja, komunitas pecinta jalan-jalan dan makan-makan pun, bisa dengan mudah ditemukan.

Coba, deh, klik situs www.jajanan.com atau ikuti milis Bangomania, dan yang paling terkenal adalah milis Jalansutra. Ribuan orang tercatat sebagai anggota, saling tukar informasi dan pengalaman wisata kuliner. Entah soal panganan tradisional, oleh-oleh khas suatu daerah, tempat jajan paling nikmat, dan masih banyak lagi. Tak jarang pula mereka "kopi darat", kumpul, untuk merasakan nikmatnya tempat makan favorit bersama teman pecinta kuliner lainnya.

Selama pertemuan, obrolan pun bisa macam-macam. Banyak ide segar dilontarkan. Termasuk soal bisnis dan makanan. Tak ayal, persaudaraan di antara mereka semakin kental terjalin. Bahkan, tak jarang, berujung dengan menjalin bisnis bareng.


Bangomania, tambah kuat dengan sponsor



Radityo Djadjoeri, pendiri Kobama


Milis yang juga ramai dibicarakan para pecinta kuliner Nusantara adalah Bangomania (bango-mania@yahoogroups.com). Meski belum genap berusia 2 tahun, milis ini sudah mampu menjaring 4.200 anggota. "Idenya dari pengalaman pribadi menjelajah dan mencicipi makanan di seluruh Indonesia," kata sang pendiri, Radityo Djadjoeri, konsultan media di Bizzcomm.

Radityo yang mengaku sudah menjelajahi hampir seluruh kota di Indonesia, merasa terpanggil untuk menginformasikan betapa nikmat dan beragamnya masakan Indonesia. Apalagi, kekayaan rasa dan bumbunya membuat masakan Indonesia unik serta istimewa. "Masakan Indonesia menggunakan rempah-rempah yang tak hanya membuat hidangan jadi lezat, tapi juga diyakini bikin tubuh sehat."

Lalu, kenapa memilih nama Bango yang sudah identik dengan merek salah satu kecap kedelai hitam? "Bisa jadi ini ada kaitannya dengan formula kecap yang menggunakan kedelai hitam, sehingga membuat masakan lebih lezat dan berkhasiat. Apalagi, kecap manis kedelai hitam juga banyak digunakan dalam penyajian dan resep masakan tradisional Indonesia."

Yang jelas, komunitas ini memang dibentuk setelah Festival Jajanan Bango (FJB) diadakan di beberapa kota dan dihadiri para penggemar masakan Indonesia yang ingin memiliki wadah untuk saling berbagi informasi. Puncaknya ketika FJB digelar di Bandung, tahun 2007, "Kami sepakat mendirikan Komunitas Bango Mania alias Kobama. Tentu saja setelah mendapat izin dari pemilik merek kecap Bango."

Meski menggunakan nama Bango, milis Bangomania tetap berusaha menjaga independensinya agar tidak tergantung pada satu produk saja. Kobama pun mendapat tempat untuk memperluas jejaring dan mempermudah acara pertemuan melalui acara seperti FJB, yang disponsori kecap Bango.



Dari sinilah Kobama melebarkan sayapnya hingga mampu merangkul banyak anggota di masing-masing kota yang disinggahi. "Ini sesuai dengan misi kami, melestarikan masakan tradisional. Dari mereka, kami dapat banyak beragam informasi," ungkap Radityo bersemangat.

Belakangan, Kobama juga membuka forum di situs pertemanan www.facebook.com. "Biar bisa berbagi info dan foto lebih banyak lagi," kata Radityo.



Jalansutra, dari milis sampai koperasi


Sering dengar nama Jalansutra? Ya, betul! Bondan Winarno presenter acara kuliner di sebuah stasiun televisi swasta yang kondang dengan celetukan, "Mak Nyus" nya itu, memang identik dengan Jalansutra.

Adalah Wasis Gunarto, pengusaha rumah makan di bilangan Senopati-Jakarta sekaligus moderator milis ini, yang digandeng Bondan untuk mendirikan jalansutra@yahoogroups.com. Kata Wasis, awal pembuatan milis ini memang terinspirasi dari Bondan yang pernah menulis buku Jalansutra. Atas motivasi dan aspirasi Bondan pula, Jalansutra mampu berjaya hingga sekarang.

Ketika menghadiri peluncuran buku Bondan April 2003 silam, Wasis yang juga pecinta makanan khas Nusantara, merasa yakin, banyak orang yang pelu tahu makanan-makanan tradisional bangsa ini. "Makanan tradisional ibarat pusaka. Ia merupakan warisan nenek moyang yang perlu dilestarikan," kata Wasis. Pemikiran ini didapat setelah ia mengikuti tulisan-tulisan Bondan plus buku Jalansutra yang mengangkat tentang kekayaan kuliner dan pengalaman jalan-jalan ke berbagai tempat di Nusantara.

Wasis senang ketika Bondan memberi restu mendirikan komunitas dengan nama Jalansutra. "Sejak 22 Mei 2003, saya mulai mengurusi komunitas Jalansutra." Untuk memperkenalkan milis ini, sekitar Agustus 2003, Wasis membuat acara pertemuan yang dihadiri 300-an orang anggota komunitas barunya. Sekarang, anggotanya mencapai 14.500 orang. Kebanyakan kaum Hawa yang punya daya beli, senang icip-icip, dan suka bingung menentukan mau jalan kemana.

Hebatnya, banyak juga anggota yang bermukim di mancanegara, semisal Rusia, Amerika, Kanada, Perancis, Inggris, Australia, dan Afrika. "Rata-rata orang Indonesia yang rindu pada makanan Nusantara."

Membeludaknya anggota milis ini pun mengharuskan Jalansutra menambah moderatornya hingga 9 orang. "Rencananya, tambah satu lagi tahun ini." Uniknya, para moderator memiliki latar belakang beraneka ragam. Ada yang pakar minuman anggur, dosen kimia, dosen manajemen, ibu rumah tangga, atau pemilik rumah makan seperti dirinya.

Solidaritas yang dijalin para anggota milis juga membuat mereka aktif menggelar acara kumpul-kumpul. Bahkan nyaris tiap bulan. Saat Jalansutra mengadakan acara Heritage Food in Heritage City di Jakarta, cerita Wasis, pesertanya tercatat 3.000 orang!

Kini Jalansutra sudah berusia 5 tahun. Terdorong semangat untuk melestarikan pusaka kuliner Nusantara dan memberikan informasi pada khalayak yang lebih luas, Jalansutra juga merilis situs resmi jalansutra.or.id, sekaligus sebagai unit usaha Koperasi Jalansutra.

Isinya merupakan kumpulan informasi kuliner dan wisata Nusantara, yang juga didapat dari anggota milisnya. Tak hanya situs dan koperasi, Jalansutra juga memiliki unit usaha seperti penerbitan, event organizer, dan biro perjalanan yang akan segera menyusul.


Jajanan.com, didominasi kaum adam

Masih dengan semangat menjaga pusaka kuliner sekaligus menjalin persaudaraan kuliner, Janus Limar membuka situs www.jajanan.com. Meski baru berdiri Juni 2008, anggota forum sudah mencapai 1.300 orang. Uniknya, mayoritas malah kaum Adam.

Janus yang juga pengusaha rumah makan di Sukabumi, mengaku tertarik membuat situs kuliner karena banyaknya informasi tentang tempat makan, resep, dan bisnis kuliner yang perlu dibagi ke banyak orang. "Awalnya, sih, saya hanya berharap situs ini bisa menampung aspirasi orang yang ingin bertukar informasi tentang masakan Indonesia. Ternyata malah berkembang lebih dari itu," katanya.

Selanjutnya, banyak juga anggota milis lain seperti anggota Bangomania yang memberikan agenda acara mereka, tips, juga informasi tempat makan yang mereka ketahui. Dari sini Janus berharap website-nya dapat menjadi jejaring sosial pecinta kuliner di Indonesia. Tak hanya berguna memberi fasilitas bagi para pehobi makanan, tapi juga menunjang kegiatan mereka yang berbisnis di bidang makanan.

"Ke depannya, harapannya mencakup informasi tentang usaha waralaba, kiat masak-memasak, dan gaya hidup sehat. Pokoknya, yang masih berkaitan dengan makanan!" ujar Janus optimis.

Laili Damayanti


Tabloid Nova edisi 19-25 Januari 2009

Sphere: Related Content

Dugaan gratifikasi KPPU: Rp 500 juta, uang muka untuk pengacara Hotman Paris Hutapea


foto: detik.com


Terdakwa kasus dugaan gratifikasi KPPU Billy Sindoro mengaku, uang Rp 500 juta yang didakwakan jaksa bukan untuk M Iqbal. Uang itu disiapkan sebagai uang muka jasa pendampingan hukum kepada pengacara Hotman Paris Hutapea.

Pengakuan itu senada dengan kesaksian Hotman dalam persidangan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu (21/1). Hotman mengaku sempat diminta oleh Billy Sindoro untuk menjadi kuasa hukumnya dalam kasus gugatan ke harian Business Today yang telah mencemarkan nama baiknya. Terkait hal itu, Billy sudah membawa uang senilai Rp500 juta sebagai uang muka penunjukan Hotman sebagai kuasa hukum.

"Pak Billy waktu itu bilang, ia sudah bawakan uang Rp 500 juta sebagai down payment. Dia (Billy) minta saya, menjadi pengacara untuk menggugat harian Business Today, tetapi karena saya sedang sakit dan banyak pekerjaan, saya tolak," kata Hotman.

Saksi menambahkan, Billy mendatanginya bersama dua orang ajudan. "Mereka bawa tas," kata Hotman.

Menanggapi kesaksian tersebut, Billy mengatakan, dirinya membawa uang Rp 500 juta jika Hotman bersedia menjadi kuasa hukumnya untuk menggugat Astro.

Pada bagian lain, Billy menolak dakwaan mengenai kepemilikan tas berisi uang Rp500 juta yang disampaikan jaksa. Dia menegaskan, tas yang diberikan kepada anggota KPPU M Iqbal itu bukan miliknya.

"Kepada petugas KPK saya katakan, tas itu milik Pak Iqbal, bukan milik saya. Tapi, memang pada saat yang sama Pak Iqbal mengatakan, tas itu milik saya. Saya bingung. Sebab, tas saya ada di Gentar untuk dibawa ke business center. Perintah saya ke Gentar jelas sekali, dia harus ke business center, bukan ke lantai 17," kata Billy dalam persidangan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu (21/1). Hal tersebut sesuai pernyataan Gentar pada sidang keterangan saksi sebelumnya.

Kembali mengenai tas, Billy mengatakan, saat dia masuk ke kamar tempat pertemuan, Iqbal sudah berada di dalam. Saat itu, dirinya masuk tanpa membawa tas. Selanjutnya, ketika Iqbal meninggalkan ruangan, Billy melihat ada tas tertinggal. "Saya ambil tas itu dan saya bawakan sampai di lift. Saya serahkan tas itu ke Pak Iqbal sambil mengatakan, Pak ini tas Bapak," ujar Billy.

Kendati menolak dakwaan jaksa penuntut umum, Billy mengaku menyesal karena telah merepotkan beberapa pihak. "Saya menyesal dengan kejadian ini karena sudah merepotkan Pak Iqbal, keluarga saya, dan banyak pihak. Tapi, saya merasa tidak bersalah," tegasnya.

Sementara itu, mengenai kaitannya dengan Lippo Group, Billy menyatakan, Lippo Group bukan badan hukum. "Lippo Group cuma kumpulan eksekutif perusahaan yang ada di lingkungan Lippo. Saat kejadian, saya sudah tidak memiliki jabatan di Lippo. Posisi saya sebagai presdir di PT First Media berakhir pada Juni 2008," tegasnya.


Bukan Suap

Sidang perkara gratifikasi Rp 500 juta juga menghadirkan saksi ahli hukum pidana Dian Adriawan. Dia menjelaskan tentang ada-tidaknya unsur suap dalam kasus ini. "Kalau pemberi melakukannya begitu saja tanpa ada keinginan tertentu, itu tidak termasuk suap sebagaimana diatur pasal 13 dan 5 UU Korupsi," kata saksi Adriawan.

Terkait hal itu, Billy menyatakan, dia tidak pernah menjanjikan apa pun kepada Iqbal. "Saya hanya menyebut mohon diberikan kesempatan membalas budi baik beliau. Tapi, saya tidak pernah menyebut soal pemberian sesuatu dan uang. Pak Iqbal ketika bersaksi juga mengatakan, di pertemuan tidak pernah ada disebut uang," kata Billy. (c125)

Investor Daily - 22 Januari 2008, Halaman 8

Sphere: Related Content

Sidang Billy Sindoro di Tipikor: Tuntutan Jaksa

Pada hari Rabu, 28 Januari 2009, akan digelar sidang lanjutan kasus dugaan gratifikasi Billy Sindoro - Mohammad Iqbal. Menurut paparan dari majelis hakim Pengadilan Tipikor pada sidang sebelumnya (Rabu, 21 Januari 2009), sidang akan dimulai pada pukul 16.00 WIB dengan acara tunggal yaitu tuntutan jaksa kepada terdakwa Billy Sindoro.

Pada sidang sebelumnya, Billy dengan penuturan yang santun membantah semua dakwaan jaksa. Menurutnya, uang sebesar Rp 500 juta yang dibawa oleh asistennya adalah untuk membayar jasa pengacara Hotman Paris Hutapea untuk menuntut harian Business Today yang telah mencemarkan nama baiknya. Karena Hotman sedang menjalani masa penyembuhan dari sakit demam berdarah dan juga terlalu banyaknya perkara yang ia tangani, ia menolak tawaran dari Billy. Dalam kesaksian di persidangan, Hotman membenarkan penjelasan dari Billy.

Saat berada di Hotel Aryaduta Menteng, Jakarta Pusat, Billy meminta Gentar, asistennya, untuk membawa tas tersebut dan menunggunya di business center. Billy sendiri melakukan serangkaian pertemuan, salah satunya dengan Mohammad Iqbal.

Sphere: Related Content

Pidato Barack Obama saat pelantikan: "Amerika teman seluruh bangsa"




Teman-teman,

Hari ini, saya berdiri di sini, siap menghadapi tugas-tugas yang menghadang, bersyukur atas kepercayaan yang Anda berikan, menghargai pengorbanan para pendahulu kita. Saya berterima kasih kepada Presiden Bush karena sudah menuntaskan pengabdiannya pada negara, juga atas kemurahan dan kerja samanya selama masa transisi.

Sekarang, genap sudah empat puluh empat warga Amerika yang mengikrarkan sumpah kepresidenan. Janji sudah diucapkan di tengah meningkatnya kemakmuran dan terperliharanya perdamaian. Meskipun, sering kali pengambilan sumpah terjadi saat awan berarak-arak dan badai mengancam. Sampai saat ini, Amerika masih mampu bertahan bukan semata-mata karena kemampuan atau visi mereka yang menduduki jabatan penting, tapi lebih karena kita sebagai rakyat tetap setia pada ideologi para pendiri negara dan memegang teguh dokumen-dokumen fundamental.

Fakta bahwa kita berada di tengah krisis, kini bisa dipahami dengan baik. Bangsa ini sedang menghadapi perang melawan lingkaran kejahatan dan kebencian yang sulit diuraikan. Perekonomian kita benar-benar lumpuh, dampak keserakahan dan tidak bertanggung jawabnya sekelompok kecil orang. Tapi, juga karena kegagalan kita memberikan pilihan-pilihan dan mempersiapkan bangsa ini menyambut era baru. Rumah disita, pekerjaan lepas, bisnis kacau. Jaminan kesehatan pun menjadi sangat mahal; pendidikan tidak terjangkau seluruh kalangan; dan tiap hari semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa gaya konsumsi energi kita kian mempertebal rasa permusuhan dan mengancam keselamatan bumi.

Data dan statistik yang muncul mengindikasikan bahwa kita sedang menghadapi krisis. Satu yang tidak kalah penting tapi sering diabaikan adalah semakin berkurangnya rasa percaya diri di seluruh pelosok negeri - sebuah komplain yang mengandung kekhawatiran bahwa tenggelamnya Amerika tidak terelakkan. Dan, generasi berikutnya juga harus memangkas ekspektasi mereka.

Hari ini, saya tegaskan kepada Anda sekalian bahwa tantangan-tantangan yang kita hadapi itu nyata adanya. Semua itu serius dan majemuk. Semua itu tidak akan bisa diselesaikan dengan mudah dan dalam waktu yang singkat. Tapi, ketahuilah ini Amerika - seluruh tantangan itu akan mampu kita hadapi bersama.

Pada hari ini, kita berkumpul karena kita lebih memilih harapan ketimbang ketakutan dan persamaan kepentingan daripada konflik dan perselisihan.

Pada hari ini, kita datang untuk memproklamasikan berakhirnya keluhan-keluhan yang picik dan janji-janji palsu. Berakhirnya saling tuding dan penerapan dogma-dogma yang tidak perlu, yang sudah terlalu lama mewarnai panggung politik kita.

Negeri ini masih tetap dianggap muda, tapi meminjam istilah Alkitab, sudah tiba masanya untuk menyudahi sifat kekanak-kanakan. Waktunya sudah tiba untuk menyalakan kembali semangat juang kita; untuk memilih sejarah yang lebih baik; untuk tetap memelihara anugerah istimewa, ide-ide yang mulia, yang diturunkan dari generasi ke generasi. Yakni, bahwa Tuhan memandang semua orang sama. Semuanya memiliki hak yang sama untuk menikmati kebebasan dan berhak mengejar kebahagiaan masing-masing.

Menegaskan kembali kebesaran bangsa ini, kita harus benar-benar memahami bahwa keagungan bukanlah sesuatu yang diberikan begitu saja. Itu harus diupayakan. Perjalanan kita bukanlah jalan pintas dan sama sekali tidak mudah. Bukan perjalanan mereka yang suka santai - yang lebih memilih bersenang-senang daripada bekerja atau hanya melulu mengejar kemewahan dan ketenaran. Sebaliknya, mereka yang berani menghadapi risiko, para pelaku, para pembuat keputusan - sebagian masih dikenang sampai sekarang, tapi sebagian besar adalah perempuan dan laki-laki pekerja keras biasa, yang telah menempuh perjalanan jauh dan merintis jalan menuju kemakmuran dan kebebasan.

Demi kita, mereka rela mengemas harta yang tidak seberapa dan bepergian menyeberang samudera dalam mencari kehidupan baru.

Demi kita, mereka rela bekerja keras dan berkeringat dan menetap di Barat; bertahan dalam cambukan dan membajak tanah yang benar-benar keras.

Demi kita, mereka berjuang dan meregang nyawa, di tempat-tempat seperti Concord dan Gettysburg; Normandy dan Khe Sanh.

Perempuan serta laki-laki pejuang itu berusaha keras dan rela berkoban dan tidak berhenti berupaya sampai tangan mereka kasar. Semuanya hanya demi kehidupan yang lebih baik. Mereka memandang Amerika lebih dari sekedar sejumlah individu yang ambisius; lebih dari sekedar perbedaan kelahiran, kekayaan atau faksi.

Itulah perjalanan yang masih harus kita teruskan hari ini. Kita masih tetap bangsa yang paling makmur dan paling berkuasa di bumi. Para pekerja Amerika sama sekali tidak mengendurkan produktivitas mereka saat krisis terjadi. Kita juga masih tetap terus berinovasi, stok barang dan jasa juga masih tetap sama dengan pekan lalu atau bulan lalu atau tahun lalu. Kapasitas dan kemampuan kita tidak tergerus. Tapi, masa berbangga diri karena mampu melindungi sejumlah kepentingan dan mengesampingkan keputusan yang tidak menyenangkan - jelas sudah berlalu. Mulai hari ini, kita harus kembali berdiri tegak, menyingsingkan lengan baju dan mulai kembali bekerja untuk membangkitkan Amerika.

Kemana pun mata memandang, selalu ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Perekonomian menyerukan kepada kita untuk beraksi, lebih berani dan tangkas, dan kita akan segera melakukannya. Tidak hanya menciptakan lapangan kerja baru, tapi juga meletakkan landasan-landasan yang baru untuk tumbuh. Kita akan membangun jalan-jalan dan jembatan, sambungan listrik, dan jaringan digital yang akan mendukung sektor perdagangan dan menyatukan kita bersama. Kita juga akan mengembalikan sains pada tempat semestinya dan memanfaatkan kemajuan teknologi untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan dan menjadikannya lebih murah. Kita akan memanfaatkan tenaga matahari dan angin dan juga tanah dengan maksimal, untuk menggerakkan kendaraan-kendaraan kita dan pabrik yang ada. Dan, kita juga akan meremajakan sekolah dan perguruan dan universitas yang ada supaya bisa memenuhi tuntutan perkembangan zaman. Semua itu bisa kita lakukan. Semua itu akan segera kita lakukan.

Kini, ada beberapa yang mempertanyakan seberapa besar ambisi kita - ada yang menyatakan bahwa sistem kita tidak akan bisa menoleransi terlalu banyak agenda besar. Kenangan mereka sungguh pendek. Mereka tidak bisa lagi mengingat apa saja yang sudah berhasil dilewati bangsa ini; apa yang bisa dicapai perempuan dan laki-laki bebas saat imajinasi dipersatukan dengan tujuan-tujuan yang lazim dan keberanian.

Yang tidak bisa dipahami mereka yang sinis adalah bahwa tanah sudah terbelah diantara mereka - dan bahwa argumen politik yang selama ini diperdebatkan sudah tidak ada lagi. Pertanyaan yang kita lontarkan hari ini adalah apakah pemerintah kita terlalu besar atau terlalu kecil. Apakah program-program yang diterapkan bisa berjalan dengan baik - apakah itu bisa membantu keluarga-keluarga Amerika memperoleh pekerjaan dengan penghasilan layak, bisa mendapatkan layanan kesehatan yang terjangkau dan uang pensiun yang cukup. Jika jawabannya ya, maka kita harus terus maju. Tapi, jika jawabannya tidak, maka program-program itu akan segera dihentikan. Rekan-rekan kita yang menyimpan dolar harus bisa bertanggung jawab atas simpanannya. Mereka harus bisa membelanjakannya dengan bijak, mereformasi kebiasaan buruk, dan menjalankan bisnis dengan transparan - sebab hanya dengan cara demikian kepercayaan yang tulus antara rakyat dan pemerintah terjalin.

Pertanyaan yang ada di hadapan kita bukan tentang dorongan pasar yang mengacu pada kebaikan atau keburukan. Kemampuan pasar untuk memupuk kekayaan dan memperluas kebebasan sudah tidak cocok lagi. Tapi, krisis ini telah mengingatkan kita kembali bahwa tanpa pengawasan yang ketat, pasar bisa memutarbalikkan kendali kita - dan sebuah negara tidak akan bisa makmur dalam jangka waktu lama jika hanya melulu membicarakan tentang kemakmuran. Keberhasilan ekonomi kita selalu bergantung bukan hanya pada ukuran gross domestic product kita, tapi juga pencapaian kemakmuran; kemampuan memperluas kesempatan bagi siapa pun juga - bukan karena amal, tapi karena itu adalah satu-satunya jalan yang paling memungkinkan dalam konteks barang.

Terkait pertahanan, kita menolak kepalsuan dalam mewujudkan keselamatan dan tujuan hidup. Para Bapak Bangsa....bapak-bapak bangsa kita menyusunnya dengan ketakutan yang sangat yang bahkan tidak bisa kita bayangkan, sebuah piagam yang mengatur tentang hukum dan hak-hak kemanusiaan. Sebuah piagam yang masih terus dijadikan pedoman dari generasi ke generasi. Tujuan-tujuan yang tercantum di sana masih tetap menjadi cahaya dunia dan kita tidak akan pernah menyerah. Dan, bagi seluruh masyarakat dan pemerintahan yang menyaksikan peristiwa hari ini, mulai dari ibu kota yang megah sampai ke pelosok dusun tempat ayah saya dilahirkan, tahu bahwa Amerika adalah teman bagi seluruh bangsa, semua perempuan dan laki-laki dan anak-anak yang mengharapkan masa depan penuh kebaikan. Dan, bahwa sekali lagi, kami siap menjadi pemimpin.

Mengenang bahwa generasi-generasi sebelum kita harus berkutat dengan fasisme dan komunisme tidak hanya dengan rudal dan tank, tapi kesetiakawanan dan kepercayaan. Mereka paham, dengan mengandalkan tenaga sendiri, kita tidak bisa terlindungi. Tapi, mereka juga tidak mengajarkan kita untuk bertindak semaunya. Setidaknya, mereka paham bahwa kekuatan kita tumbuh dari semangat kehati-hatian; keamanan tercipta dari keadilan, keteladanan dan juga kualitas mengendalikan sesuatu.

Kita semua adalah pewaris. Sesuai prinsip-prinsip yang ada, kita bisa menghadapi seluruh ancaman tersebut. Tentu saja dengan upaya yang lebih serius dan juga kerjasama lebih luas dengan beberapa negara. Kita akan berusaha keras mengembalikan Iraq ke pangkuan rakyatnya dan mewujudkan perdamaian di Afghanistan. Bersama dengan kawan lama dan mungkin juga musuh bebuyutan, kita akan bekerja tanpa lelah melenyapkan ancaman nuklir dan membahas planet yang makin hangat. Kami juga tidak akan memberikan ampun kepada musuh atau menyerah pada musuh. Mereka yang berusaha keras mencapai tujuannya dengan menyebarkan teror dan juga ancaman, kami akan tegaskan kepada kalian bahwa saat ini semangat kami sudah lebih kuat dan tidak mudah dipatahkan. Kalian tidak akan bisa lagi mempermainkan kami, dan kami akan segera mengalahkan kalian. (Disarikan dari Associated Press/hep/ttg)


http://www.jawapos.com/

Sphere: Related Content

15 January, 2009

Sidang Billy Sindoro

Besok, Jumat (16 Januari 2009) akan digelar sidang lanjutan kasus dugaan gratifikasi Billy Sindoro - Mohammad Iqbal. Menurut paparan dari majelis hakim Pengadilan Tipikor pada sidang sebelumnya (Senin, 12 Januari 2009), sidang akan dimulai pada pukul 9.00 WIB dengan menghadirkan saksi-saksi sebagai berikut:

Syamsul Maarif
Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU)

Tadjoedin Noer Said
Komisioner Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU)

Anna Maria Tri Anggraini
Komisioner Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU)

Benny Pasaribu
Komisioner Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU)

Catatan:
- Nama dan jabatan yang tertulis pada masing-masing saksi adalah sesuai dengan BAP.
- Saksi yang dihadirkan untuk memberikan keterangan dalam sidang sewaktu-waktu dapat berubah.

Sphere: Related Content

14 January, 2009

Harian Business Today tak lagi terbit

Sekadar info. Terhitung sejak awal Januari 2009, harian Business Today yang sebagian sahamnya dimiliki oleh Dahlan Iskan, tak lagi terbit di pasaran. Agaknya koran ini tak mampu menggaet iklan, kalah bersaing dengan Bisnis Indonesia, Kontan, Investor Daily dan Neraca.



Kini Business Today menjadi sisipan di harian Indo.Pos, yang terbit di Jakarta.

Sphere: Related Content

12 January, 2009

Hari ini, sidang Billy Sindoro

Hari ini, Senin (12 Januari 2009) akan digelar sidang lanjutan kasus dugaan gratifikasi Billy Sindoro - Mohammad Iqbal. Menurut paparan dari majelis hakim Pengadilan Tipikor pada sidang sebelumnya (Rabu, 7 Januari 2009), sidang akan dimulai pada pukul 14.00 WIB dengan menghadirkan sederet saksi sebagai berikut:

Benedict Sulaiman
Manager IT di PT. LIPPO E-NET

Haryanti
Sekretaris di PT. LIPPO E-NET

Sugeng Susanto
Sopir di PT. LIPPO E-NET

Nelia Concapcion Molato
CEO (Chief Executive Officer) PT. Direct Vision

Agnes Widyanti
Direktur Penyiaran pada Dirjen Sarana Komunikasi & Diseminasi Informasi Departemen Komunikasi dan Informasi

Catatan:

- Nama dan jabatan yang tertulis pada masing-masing saksi adalah sesuai dengan BAP.

- Saksi yang dihadirkan untuk memberikan keterangan sewaktu-waktu dapat berubah.

Sphere: Related Content

10 January, 2009

Kenapa Anda "ditendang" dari Facebook?




Kini bermunculan keluhan dari pengguna Facebook (FB) yang kerap diberi peringatan oleh admin. Bahkan sebagian dari mereka dicampakkan begitu saja, yang oleh admin FB diberi istilah "disabled". Pada kondisi seperti ini, akun mereka di FB dihapus, tidak lagi dapat diakses. Mengingat FB memiliki aneka ragam fitur dan aplikasi, praktis segalanya akan hilang. Kalau ingin mengoperasikannya lagi, musti mengulang dari nol. Sungguh merepotkan.

Jadi, waspadalah buat Anda yang punya akun di FB.

Berikut pesan dari admin FB:

Facebook has limits in place to prevent behavior that others may find annoying or abusive. These limits restrict the rate at which you can use certain features on the site. Abusive behaviors include the unsolicited contact of a large amount of users on the site (whether it be through messages, pokes, or friend requests). It is especially prohibited when certain groups of users, who share similar physical characteristics, are targeted for this type of activity. While we understand that your definition of what constitutes harassment may differ from ours, please be aware that it is the sole discretion of Facebook to determine what does and does not fall into this category.

You have received a warning because Facebook determined that you were going too fast when sending friend requests or that these friend requests were getting ignored at high rates or in high numbers. If you have also been blocked from sending friend requests, please note that these blocks can last anywhere from a few hours to a few days. Unfortunately, we cannot lift the block for you.

When you are allowed to resume using this feature, please make sure to monitor the nature, as well as the speed, in which you use site features going forward, and note that sending friend requests to people you don't know, or any other violation of Facebook's Terms of Use, may result in your account being permanently disabled.

Please be aware that the threshold at which you are warned is not a specific number, but rather determined by different factors (such as speed, time, and quantity). For security reasons, we are unable to provide additional information about this system. We apologize for any inconvenience.

For further information on this or other topics, please consult our help center :

http://www.facebook.com/help/seeall.php?facebook&id=755

Sphere: Related Content

09 January, 2009

The Jakarta Post terbit dengan wajah baru

Masih dalam rangka perayaan ulang tahun ke 25, mulai hari Senin 12 Januari 2009, harian berbahasa Inggris terkemuka The Jakarta Post akan terbit dengan wajah baru.


Bentuk koran yang lebih ramping dan atraktif serta jumlah halaman yang bertambah menjadi 32 halaman yang terbagi menjadi 3 bagian adalah ekspresi keinginan kami untuk memberikan pelayanan yang lebih baik kepada para pembaca setia, pemasang iklan serta masyarakat pada umumnya.


Untuk memeriahkan penerbitan perdana harian The Jakarta Post dengan wajah baru, tim kami akan ‘hit the road’ pada hari Senin 12 Januari 2009 jam 6 -10 pagi untuk membagikan koran secara gratis di beberapa lokasi di Jakarta antara lain di Jalan MH Thamrin, Bundaran Senayan serta Pondok Indah.

Pembagian koran gratis ini juga dilakukan di beberapa Shopping Mall seperti Plaza Indonesia, Pacific Place, FX Sudirman dan Senayan City.

Acara ini juga akan didukung oleh teman-teman dari IKJ yang akan menyuguhkan ‘happening act’ di 2 lokasi dari lokasi-lokasi pembagian koran tersebut.


Sampai jumpa di hari Senin 12 Januari untuk melihat wajah baru harian The Jakarta Post!




(English version)


The Jakarta Post comes with a new look


In conjunction with our 25th anniversary, as of Monday January 12, 2009, the leading English newspaper The Jakarta Post will come with a new look.


A slimmer and more attractive format with 32 pages in three sections is our way of improving and strengthening our overall services to readers, advertisers and others.


Celebrating the first edition of The Jakarta Post’s new look, we are going to hit the road on Monday January 12, 2009 at 6 – 10 a.m. to distribute our complimentary newspapers at some locations in Jakarta, ie. Jl MH Thamrin, Senayan traffic circle, as well as Pondok Indah Mall junction.

We will also hit the shopping malls such as Plaza Indonesia, Pacific Place, FX Sudirman and Senayan City.

This celebration is also supported with our friends from IKJ (Jakarta Arts Institute) who will present a “happening act” at two locations of the abovementioned.


See you on Monday, January 12, with our new look!



Contact:

George A. Garot
Promotion Manager
Phone: 021-5300476/8
Mobile: 0818-GEORGE (436743)
Fax: 021-5300009
Email: george@thejakartapost.com

Sphere: Related Content