
adegan ayat-ayat cinta
Oleh: M. Abdulah
E-mail: emabdulah@yahoo.com, emabdalah@yahoo.com
Menonton film Indonesia? Rasanya walaupun diberi imbalan HP Nokia terbaru saya kok memilih lebih baik menemani ponakan saya main petak-umpet..
Kenapa begitu? Film Indonesia, Sinetron Indonesia, setiap kali saya – tanpa sengaja – menontonnya, malah membuat saya seperti orang bodoh. Jalan ceritanya terlalu mudah untuk dicerna dan ditebak. Dialog-dialognya kosong dan tak ada yang memancing indera “keingin tahuan”. Personil yang main juga tidak didukung dengan karakter yang tajam. Aktingnya terasa
sekali dibuat–buat. Yang ditonjolkan hanya wajah-wajah cantik yang mengundang imajinasi porno para penontonnya.
Begitu juga dengan film Indonesia terbaru, Ayat-ayat Cinta (AAC). Tidak ada hal yang baru dalam alur ceritanya. Semuanya berputar-putar pada masalah primitif hawa nafsu manusia, hubungan lain jenis, yang 90 persen menjadi topik film dan sinetron Indonesia.
Kalau bukan karena istri saya yang merengek-rengek minta nonton film kacangan seperti itu, saya tak akan merepotkan diri membuang duit ke bioskop. Bujukan saya untuk membeli VCD bajakannya saja ternyata tidak mempan. “Kalau nonton di VCD kan bisa diulang-ulang
dan lebih murah,” rayu saya. Tapi bibirnya malah makin manyun, pipinya jadi merah, dan tubuh saya habis dicubitin. “Tapi ini bagus, Mas. Ceritanya Islami dan tentang poligami”, serunya. Wah, kalau alasan yang terakhir itu saya tertarik. Akhirnya sebagai suami yang sayang istri, saya pun dengan gentleman mengantarnya nonton.
Benar tuduhan saya terhadap film AAC. Jalan ceritanya membuat saya menguap berkali-kali. Topik yang disuguhkan tidak fokus. Ceritanya sendiri mengisahkan seorang mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Mesir. Di mana lagi kalau bukan di Universitas Al
Azhar yang kesohor itu. Tapi di situ tidak dijelaskan, sang bintang, yang bernama Fahri, mengambil fak apa, jurusan apa. Pokoknya kuliah, gitu aja.
Dan selama film berlangsung, saya menunggu-nunggu setting gambar fisik bangunan Al Azhar yang sudah berumur 1000 tahun itu. Tapi sampai film habis, tak diperlihatkan sama sekali suasana kampus, suasana para pemain yang sedang kuliah menuntut ilmu dengan dosen- dosennya yang brilian. Atau sebagian bentuk bangunan Al Azharnya. Malah pemandangan tangga kampus, yang menurut saya mirip tangga masuk masjid Al Azhar, Kebayoran Baru, bukan Al Azhar Kairo.
Adegan pertama, terjadi dalam sebuah kereta api. Sang bintang menjadi “hero” dengan membela seorang wanita bercadar yang hendak ditampar seorang muslim radikal karena memberi tempat duduk pada ibu-ibu Amerika. Adegan diawali dengan sikap dan dialog para penumpang di kereta yang terasa mengada-ada. “Ada orang kafir lewat” begitu kira-kira mereka berkata. Padahal mereka adalah mahasiswa-mahasiswa yang tentunya punya rasa humanisme yang tinggi. Mesir adalah negara muslim yang moderat dan cenderung liberal. Jadi bukan hal aneh lagi kalau ada cewek asing lewat. Dan tak akan mungkin mereka mendisposisikan turis itu sebagai “kafir”
secara eksplisit. Attitude seperti itu sangat melecehkan warga Mesir (dan muslim), karena segitu banyak penumpang, masak tak ada yang mau memberi tempat duduk pada wanita tua, walaupun beda agama. Yang memberi tempat duduk malah seorang muslimah bercadar yang berkewarganegaraan Jerman, Aishah.
Seperti sinetron-sinetron lainnya, sang wanita yang dibela kemudian merasa simpati terhadap “pahlawannya” yang telah membelanya, apalagi wajah si pembela bonyok dihantam si penjahat. Di sini supaya lebih heroik sebenarnya si Fahri tidak perlu ditolong oleh kawan-kawannya. Dengan ilmu kanuragan ala Lamongan mustinya si Fahri bisa membela diri, gitu. Walaupun
nantinya si penjahat ternyata lebih sakti, dan si Fahri kalah.
Drama babak pertama berakhir dengan kemenangan si penjahat yang berteriak “Allahu Akbar”. Di sini saya bingung. Kenapa si antagonis, ekstrimis muslim yang keras kepala tersebut sampai akhir cerita tidak dimunculkan lagi. Ceritanya akan sedikit lebih bagus kalau orang yang mukul si Fahri tersebut kemudian menyadari kekeliruannya dan kembali ke jalan yang benar.
Sang Amerika yang ditolong Aishah ternyata adalah jurnalis yang sedang mengadakan penelitian mengenai Islam. Si Fahri, yang membela Aishah, ternyata kemudian dijadikan nara sumber. Dalam wawancara antara jurnalis dan Fahri nampak sekali kemiskinan dialog yang disuguhkan. Setiap pertanyaan si jurnalis selalu dijawab Fahri dengan singkat, ditambahi dengan kata,
“Semuanya sudah saya tulis di buku saya”. Kalau begitu, ngapain si jurnalis jauh-jauh datang dari Amrik, mendingan baca artikel tentang Islam di internet. Cukup dua pertanyaan saja yang dimunculkan di film itu. Lalu adegan berganti. Cewek amrik itu tak pernah dimunculkan lagi sampai film habis. Mustinya sutradara lebih jeli dengan memunculkannya di hari pernikahan Fahri.
Adegan berganti dengan acara ta’aruf antara Aishah dan Fahri. Si Fahri yang hanya anak penjual tape, ditaksir si Aishah yang anak konglomerat Jerman. Tokoh Aishah di sini sangat tidak mirip dengan wajah Jerman. Mungkin terlalu mahal untuk menyewa artis Jerman asli. Begitu juga dengan orang-orang Mesirnya, banyak yang gadungan. Disewa dari hasil pencarian di
pinggir-pinggir jalan Matraman (kasar amat. Sorry). Mereka hanya turunan. Untung hidungnya masih kelihatan mancung.
Walaupun si Fahri mengaku miskin, anak penjual tape (tapi bisa punya ongkos ke Mesir). Cinta Aishah tak terpatahkan. Semua biaya akan ditanggung pihak wanita. Enak tenaaan. Itulah sinetron. Padahal di dunia nyata, sekaya apa pun seorang perempuan, pasti dia akan
mencari lelaki yang lebih kaya.
Di antara kebingungan antara kawin dengan tidak kawin, si pemeran utama menemui gurunya. Di sini saya merasa sangat dilecehkan. Pertemuan murid dan guru sebuah perguruan prestisius setingkat Al-Azhar terjadi di sebuah ruangan gelap, mirip di sudut-sudut musholla, ketika seorang ustadz mengajar Iqra muridnya, di kampung saya. Mungkin si sutradara mengira, Al Azhar itu gak beda dengan halaqah-halaqah pengajian Kebon Jeruk, bukan universitas yang ada kursi dan bangkunya, lengkap dengan papan tulisnya.
Cerita singkatnya, si lakon kemudian “merit” dengan Aishah. Bulan madu dihabiskan di sebuah “kastil”. Di tengah suasana bulan madu, ternyata banyak gadis yang patah hati dengan menikahnya Fahri dengan Aishah. Salah satunya adalah Maryam. Maryam depresi berat
mengetahui Fahri kawin dengan wanita lain. Aneh. Padahal pacaran aja enggak. Kok bisa patah hati. Fahri adalah penganut Islam yang textual (walaupun tidak jenggotan). Bersalaman dengan perempuan saja tidak mau, apalagi mau berkhalwat (menyepi) dengan wanita yang bukan ibunya, kok tahu-tahu gadis-gadis bergelimpangan kehilangan gairah hidup mengetahui
Fahri tidak kawin dengan mereka. Aneh bukan? Nikmati saja. Udah terlanjur beli tiket.
Namun cerita bulan madu kedua sejoli itu tiba-tiba berubah berantakan, ketika si Fahri difitnah seorang wanita miskin yang merasa ditolak cintanya. Tuduhannya sangat berat, pemerkosaan. Tanpa alif, ba, ta, (gantinya ba, bi, bu) si Fahri dijebloskan ke penjara yang dipenuhi tikus. Sejorok itukah sebuah penjara di Mesir? Perlu klarifikasi.
Dalam adegan di penjara ini, si sutradara nampak sekali memaksakan unsur “dakwahnya” yang diklaim sebagai film bernuansa islami. Ketika si pengantin baru itu memarahi Tuhan, dan mengomeli nasibnya, rekannya satu sel memberi nasehat dengan kisah Nabi Yusuf. Amat sangat tidak klop. Dalam Ushul Fiqh, mengkiyaskan sesuatu dengan hal yang berbeda itu bathil. Nabi Yusuf, yang memfitnah adalah wanita bangsawan. Sedang di kisah AAC, seorang gadis miskin
yang patah hatilah yang memfitnah Fahri. Nabi Yusuf berdoa, lebih suka dipenjara daripada menuruti nafsu bejat para wanita bangsawan. Sedang Fahri tidak suka dipenjara, karena masih mencintai istrinya yang konglomerat.
Mustinya cerita AAC dibalik. Si gadis miskin itulah yang menikah dengan Fahri. Lalu Aishah datang menggodanya, dengan segala kekuasaan harta dan kecantikannya. Pasti ceritanya lebih seru. Baru cerita Nabi Yusuf terasa lebih mirip dijadikan dalil.
Seandainya sutradara punya instink yang lebih kreatif, tokoh yang menjadi rekan satu penjara dengan si Fahri adalah si muslim radikal yang muncul di adegan pertama di atas. Alasan dijebloskannya ke penjara karena terkait pasal-pasal terorisme. Sedang Fahri karena tuduhan pemerkosaan. Terus si Fahri, dengan kecerdasan emosional dan intelektualnya berhasil menyadarkan si teroris. Bukannya mencak-mencak meratapi nasib (Merengek seperti keponakan saya kehilangan baju Spiderman). Sebuah adegan klise dari sineas Indonesia. Dapat hadiah, nangis. Dapat musibah, nangis. Ditinggal ke pasar, nangis. Ditinggal suami, meraung- raung.
Kembali ke pokok persoalan. Istri si Fahri ternyata bukan tipe gadis cengeng yang menyerah begitu saja pada nasib. Dia berusaha sebisa mungkin membebaskan suaminya. Penonton film ini terasa sekali dipaksa untuk merasa bahwa perjuangan Aishah sangat berat. Tapi penggambarannya sangat hambar. Rintangan-rintangan yang dilalui istri Fahri terlalu mudah diselesaikan. Tanpa kesan yang menggigit. Tahu-tahu si Fahri bisa keluar penjara.
Ternyata saksi kunci bahwa Fahri bukan pemerkosa ada pada Maryam, yang sedang sekarat karena patah hati dan ketabrak mobil. (entah kenapa para penonton seperti tidak bosan- bosannya disuguhi adegan wanita stress ketabrak mobil). Entah dapat ide dari mana, si wanita
Jerman itu tiba-tiba saja meminta Fahri mengawini Maryam. Tentu saja si Fahri tidak mau. Tapi karena melihat kondisi Maryam yang semakin koma, akhirnya beliau mau juga.
Kembali di sini saya bertanya-tanya. Setahu saya, pernikahan dalam Islam itu harus dilakukan dalam keadaan sadar oleh semua pihak. Sedangkan dalam film ini, si Maryam kondisinya koma alias tidak sadar. Kok bisa dinikahkan oleh para pemeluk islam yang taat? Atau ada mazhab baru yang membolehkannya? Kalau ada, sangat berbahaya. MUI harus bertindak. Sebab diilhami
film ini, bisa saja nanti seorang lelaki menikahi wanita pujaannya yang sedang tidur. Begitu juga
sebaliknya. Tak peduli wanita atau lelaki itu suka atau tidak suka.
Kita lanjutkan kisah aneh AAC. Di adegan pernikahan kedua si Fahri, penonton diuji imajinasinya. Atau sutradara ingin menyembunyikan fakta bahwa di Mesir para pemudanya juga doyan pacaran seperti di Indonesia? Karena ternyata si Maryam begitu menaruh hati pada Fahri sesuai buku hariannya. Dan si Fahri pun ternyata buaya. Dalam kealimannya ternyata dia mencintai Maryam. Dan keduanya sering ngobrol (atau pacaran?) di tepi sungai Nil. Jadi mana unsur dakwahnya? Film ini tak ubahnya cerita-cerita roman sinetron yang mengisi prime time di TV-TV kita. Hanya bungkusnya Al Azhar, sungai Nil, dan tulisan-tulisan Arab, serta wajah- wajah Indo-Arab.
Terlepas dari sah atau tidaknya pernikahan si Fahri dengan Maryam, ketiga makhluk berlainan jenis itu kemudian bisa hidup bahagia dalam satu rumah. Tentu saja di rumahnya Aishah. Tapi sayang, sutradara malah memilih “mematikan” tokoh Maryam, istri kedua Fahri. Hanya saja kematiannya sengaja didramatisir, terjadi ketika Maryam sedang shalat dalam keadaan berbaring. Endingnya tetap saja meniru tokoh Cinderella dan pangeran yang hidup bahagia berdua selama-lamanya. Kehadiran Maryam dirasa mengganggu keharmonisan rumah tangga.
Film ini memang diangkat ke layar lebar dari Novel dengan judul yang sama, Ayat-Ayat Cinta. Tapi si pembuat film tidak mau sedikit berimprovisasi, mengubah sedikit jalan ceritanya supaya lebih pas disuguhkan di layar lebar, yang punya durasi kurang dari 2 jam. Novel adalah cerita yang tidak bisa habis dalam sehari bisa dibaca (kecuali yang membaca tak punya kesibukan
cari duit). Dan tak akan muat bila dijejalkan dalam waktu 150 menit.
Kalau film ini tak ada istimewanya dengan sinetron-sinetron lainnya, kenapa laris? Bahkan
kabarnya sampai tulisan ini diketik, sudah 2 juta tiket terjual. Tentu saja karena memang kemampuan penonton kita baru sampai segitu. Terus topiknya sedikit menyinggung poligami dan benuansa islami. Tapi menurut saya tidak islami, sebab, kalau memang mau menyuguhkan kisah yang islami, ending cerita mustinya berakhir dengan ketiganya yang hidup bahagia dalam satu rumah. Kalau perlu wanita yang telah menuduh si Fahri memperkosanya juga dinikahi. Begitu juga mantan kekasihnya di kampung yang stress berat, juga dinikahi. Jadi istrinya empat. Hidup dalam satu rumah. Hidup happily ever and after. Mungkin belum ada sutradara dan produser yang berani membikin film seperti itu. Nantilah, saya yang bikin. Tapi mau praktek dulu.
Wassalam
M. Abdulah
________________________________________
TANGGAPAN
From: Tjahyono Eranius P.
E-mail: tjahjo_eranius@yahoo.com
Masukan dari Mas Abdulah soal film AAC sangat menarik dan menggelitik akal dan budi saya. Saya pernah nonton film ini, tapi sambil lalu, menit-menit awal sempat menarik tetapi kemudian saya lebih memilih meneruskan pekerjaan dari pada buang waktu menyimak adegan yang terpotong-potong (gak nyambung).
Komentar yang dilontarkan Mas Abdulah membuat saya berpikir dan bertanya, sudah sedemikian parahkah dunia perfileman Indonesia? Selain tidak dapat mengambarkan realitas yang rasional, juga selalu berusaha memaksakan (menjejali) penonton dengan nilai-nilai yang tidak jelas. Semoga semua masukan yang positif dan negatif semakin mendewasakan perfileman Indonesia.
________________________________________
From: Arie l Heryanto
E-mail: ariel_heryanto@yahoo.com
Terima kasih atas analisa yang lumayan panjang-lebar dan menohok. Kalau ada yang ngritik uraian Anda karena kurang akurat, itu kan detail-detail kecilnya, atau ejaannya.
Seperti yang Anda bilang, yang menarik untuk dikaji lebih jauh, adalah mengapa begitu banyak orang yang berminat terhadap filem ini. Bukan kualitas filemnya sendiri. Tapi kita perlu uraian tentang isi filem itu, seperti yang Anda kerjakan dengan bagus, untuk memahami pertanyaan tentang yang ada di luar filem itu.
Saya duga sebagian tidak kecil dari orang kita datang beramai-ramai untuk nonton karena mendengar ini filem super-laris. Padahal ini filem jadi (semakin) super-laris karena mereka ikut-ikutan nonton. Jadilah lingkaran malaikat.
Sesudah Wakil Presiden nonton dan bikin berita, sang Presiden RI membawa rombongan untuk nonton dan bikin berita yang tidak kalah hebat. Andaikan bisa, saya pengen tuh nonton peristiwa penguasa RI mau berepot-repot cari perhatian media dengan nonton filem (dan nonton
kerumunan orang lain yang terkagum-kagum nonton pejabat tinggi negera), ketimbang nonton filemnya sendiri.
Jadi biar pun nggak suka nonton filem ini, kita nggak bisa langsung keluar gedung bioskop, atau matikan DVD, atau youtube, kalau peduli mau tahu lebih baik tentang apa yang bergejolak di masyarakat Indonesia.
________________________________________
From: Radityo Djadjoeri, Jakarta
E-mail: radityo_d@yahoo.com
Kritikan Pak M. Abdulah enak dibaca, mengalir begitu saja. Lucu, lucu, lucu. Perut saya sampai sakit, karena tak kuat menahan tawa saat membaca tulisannya. Menurutku, bagus dibaca buat kawan-kawan yang belum sempat nonton AAC. Terus terang, saya juga kurang begitu suka nonton film Indonesia. Hanya satu dua film yang menurutku cukup bagus. AAC? Entah, mungkin akan saya tonton saat keramaian bioskop sudah mereda.
________________________________________
From: Awang Binsas
E-mail: t_binsas@yahoo.com
Heheheheh...kritis sekali tulisan tentang film AAC ini. Saya belum liat AAC, tapi sudah lumayan paham dan ngerti dengan isinya/jalan ceritanya setelah membaca kritik film dari Pak M. Abdulah ini...ditambah cuplikan adegan-adegan film AAC di TV. Saya jadi lebih tau kelebihan dan kekurangan film AAC sekarang. Tapi saya kok gak tertarik ya liat film tersebut. Apalagi setelah membaca tulisan Pak M. Abdulah ini.
________________________________________
From: Ati Gustiati, USA
E-mail: hatiku_rumahku@yahoo.com
Waahhh....saya malah asyik baca komentarnya pak Abdulah ini ketimbang isi cerita film AAC itu. Udah puluhan tahun gak pernah nonton film Indo, saya emang gak tau harus komentar gimana, tapi sempet liat sinetron-sinetron di TV yang bikin saudara-saudara saya lengket depan TV sulit diganggu saking tenggelam dalam alur cerita. Padahal sambil lewat saja saya udah bisa terka cerita serta dialog-dialognya terlalu membosankan karena gak alami, malah pethatically ridiculous bagi saya. Masa ada seorang tukang jamu gendong yang make up nya mirip artis Hollywood. Tubuhnya bersih mulus fit seperti sering fitness tiap hari, realistically punya tampang begitu mana mungkin mereka jualan jamu keliling gang, paling enggak jadi selirnya konglomerat atau bini muda pejabat...
Sutradara ini bego buat standar kita pak Abdulah, tapi pinter buat konsumen cetek Indonesia. Cerita-cerita yang paling komersial memang harus berbau islami, santri-santri di gunung pun turun dari pertapaan untnk nonton film ini. Inilah mutu tontonan yang digemari konsumen yang memang tidak kritis, mereka hanya ingin melihat drama yang akan disuguhkan oleh lelaki yang berpoligami dan hidup serumah, walau di negeri Arab sendiri banyak istri-istri yang hidup serumah. Yang menjadi kelemahan sutradara disana, adalah mereka suka sekali membuat film yang cepat laku tanpa modal, not a bad idea, cuman mereka kehilangan identitas dan kualitasnya, itu sebabnya film Indonesia tidak bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
Sering-seringlah menulis pak Abdulah, saya suka sekali membaca catatannya.
Salam sejahtera
omie
________________________________________
From: Rahardini Widyasari
E-mail: rahardiniwy@yahoo.com
Kenapa kok tidak ada resensi semacam ini di media-media ya? Saya suka membacanya..... two thumbs up!
________________________________________
From: Indarti Fareninda
E-mail: indah_charned@yahoo.com
Dalam "Demam Ayat-Ayat Cinta" yang melanda negeri ini, saya salut masih ada orang-orang yang jeli seperti Anda. Mari kita sadarkan negeri ini dari buta sinematografi sehingga cukup
puas disuguhi adegan yang "biasa" yang terlalu dikesankan "luar biasa".
JAYALAH PERFILMAN INDONESIA........
________________________________________
From: Ramadhani
E-mail: rama.ramadhani@gmail.com
Mungkin Abdulah ini tidak membaca bukunya. Walau banyak adegan yang berbeda antar film dan bukunya tapi ide cerita itu di ambil dari bukunya. Tapi...menurut saya, bukunya terlalu mengada ngada ah. Tiba tiba Fahry punya uang puluhan ribu dolar dari Aisha. Lalu ada cewek cewek yang naksir berat sama si Fahry. Mirip banget sinetron Indonesia. Tapi saya ingat cerita lain lagi karya Chin Yung, yaitu Sia Tiauw Eng Hiong. Si jagoan (Kwee Ceng) setelah menikah dengan Oey Yong yang orang kaya ternyata ditaksir banyak perempuan.
Aduh tipikal kisah kisah pemimpi ya....hehehehe
________________________________________
From: Yayan Zamzami
E-mail: yayan_z@yahoo.com
Pak Abdullah...
Tampaknya, Anda begitu menikmati film ini..Saya jadi ragu, apa benar Anda menguap berkali-kali?
Tabek,
= Yayan =
________________________________________
From: Marcopolo, Ceko
E-mail: comoprima@seznam.cz
Mutu perfilman, pementasan dan media informasi adalah selalu merupakan pantulan dan atau pancaran dari kematangan budaya suatu masyarakat yang bersangkutan. Oleh karena itu kita harus banyak-banyak belajar dari semuanya. Dari kehidupan, dari dunia, dari kenyataan hidup yang nyata (real), dari Ilmu Pengetahuan - dari bangsa-bangsa lain di dunia. Sementara itu belajar mengkritik diri sendiri sebagai anggota dari Bangsa kita sendiri.
________________________________________
From: Kang Becak, Japan
E-mail: kbecak@yahoo.comHuehehehe,
Kehebatan dari film AAC,
Penjabaran humanisme Islam,
Dalam budaya populer.
Bukankah dalam umat Islam,
Ada yang radikal,
Ada yang moderat.
Ada yang licik,
Ada yang baik.
Pada akhirnya,
Muslim moderatlah dan baik yang menang.
Fahri adalah penentang polygamy,
Ia terpaksa berpolygamy dengan perempuan non muslim,
Untuk menyelamatkan nyawanya.
________________________________________
From: Eko S.
E-mail: eko.eshape@telkom.net
Ulasan yang kontroversial, namun sangat menarik. Banyak hal yang disampaikan, menurut saya benar. Misalnya adegan Fahri di kereta, menolong cewek bercadar, menurut saya juga terlalu dipaksaain dan susah dicari pembenarannya.
Istri saya yang tadinya begitu semangat nonton AAC, juga makin lama matanya makin redup dan akhirnya tidurlah dia.
________________________________________
From: Alfred Alinazar, Bogor
E-mail: aalinazar@gmail.com
Ha ha ha, ini lucu banget Mas. Yang tadinya semangat kok bisa ketiduran pas nonton ya?
Aku juga beberapa hari ini diajakin istri untuk nonton AAC. Untuk sementara aku masih ogah nontonnya, dan mumpung bioskop masih penuh dan antriannya panjang, jadi masih ada alasan untuk menolak.
Kalau ternyata ceritanya ndak mutu dan bisa bikin ketiduran gitu, wah hebat banget yang bikin publikasi film itu ya?
salam,
-bank al-
________________________________________
From: Zuliwardhy
E-mail: zoel_rentalindo@yahoo.com
Wah-wah... sebegitu hebatnya kritikan Anda terhadap film Indonesia, yang begitu fenomenal penontonnya setelah AADC (Ada Apa Dengan Cinta). Saya pun sama seperti Anda belum melihat film-film Indonesia yang menggigit tuk ditonton, mungkin NAGA BONAR, kali yah...tapi tuk AAC (Ayat-Ayat Cinta) saja saya belum menontonnya, secara AADC aja dipaksa pacar tuk nonton, itu aja dibayarin, hehehe...
Tapi secara begitu ternyata AAC bikin anda melek juga yah? Walaupun menguap berkali-kali ternyata AAC bisa bikin mata anda terbelalak tuk menonton film itu sampai habis bahkan detailnya Anda hafal. hahaha....
Film itu mungkin bukan hanya dapat dilihat dari satu saja ya Bung...